CIRI-CIRI ORANG YANG SHOLATNYA SUDAH DISAMPAIKAM KE MAQOM KHUSU’

IMG_20210603_103911.jpg

Oleh: KH. Budi Rahman Hakim, MSW., Ph.D, [Pembantu Khusus Abah Aos]

Bisa sholat khusuk adalah dambaan setiap pribadi muslim yang suka sholat. Muslim yang tidak suka sholat tidak pernah mendambakan sholat khusuk. Karena, jangankan pengen sholat khusuk, terhadap sholatnya saja belum suka.

Bersyukur kepada siapa saja yang sudah suka dengan sholat. Sekarang tinggal khusuknya. Saking ingin ketemu khusuk sampai-sampai menjamur pelatihan sholat khusuk. Apa dan bagaimanakah sholat khusuk itu? Adakah alat ukur untuk mengetahui apakah kita tergolong orang-orang yang khusuk?

Dari lisan Guru Agung Pangersa Abah Aos;

Pertama, khusuk itu hadir hati dengan dzikrulloh, hati yang selalu ingat dan bersama Alloh, di mana saja, kapan saja, apalagi di saat menunaikan ibadah sholat. Yaitu, hati yang hidup, yang dihidupkan oleh Yang Maha Hidup melalui kekasih dan kholifahNya yang masih hidup melalui talqin dzikir, yaitu dzikir yang sesuai petunjuk Kanjeng Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallan yang diwariskan kepada para penerusnya dari masa ke masa termasuk salah satunya kepada Pangersa Guru Agung Abah Aos. (*

“Tidak ada khusuk kecuali dengan hadir hati. Tidak akan ketemu khusuk di dalam sholat kalau belum ketemu khusuk di luar sholat,” ungkap Pangersa, menegaskan. Ketika sholat, hatinya diikat oleh Dzikir Khofi, sehingga pikiran tidak melayang-layang dan perasaannya tidak gentayangan pergi ke mana-mana. Raganya di atas sajadah, begitu pula nyawa dan rasanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدْنِيْ  ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
innaniii anallohu laaa ilaaha illaaa ana fa’budnii wa aqimish-sholaata lizikrii

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)

Kedua, khusuk itu maqom. Di antara ciri yang sudah mencapai maqom khusuk, dawuh Pangersa Abah, ia ‘ringan, tenang, dan senang’ menunaikan sholat. “Khusuk itu senang, den” ucap Pangersa suatu malam di Jagat ‘Arsy. Senang mengerjakan amal baik tanpa perlu undangan, panggilan, apalagi paksaan.

Ciri orang ringan, tenang, dan senang sholat itu, di antaranya: selalu siaga sholat awal waktu. Ya, sholat awal waktu, bukan tepat waktu. Tidak pernah menunda-nunda pelaksanaan sholat lima waktu.

Ciri-ciri orang siaga sholat awal waktu, sekurang-kurang ada tiga:

Satu, ia selalu menjaga dan senantiasa punya wudlu –selambat-lambatnya selalu berwudlu 15 menit sebelum tiba waktu sholat.

Karena slalu punya wudlu, maka ciri nomor dua ialah ‘profesi’ utamanya, di tengah kesibukan duniawinya sekalipun, ialah ‘menunggu sholat’. Kata Pangersa Abah, “menunggu sholat itu sama dengan sholat.”

Ciri nomor tiga, tidak suka dengan panggilan sholat (adzan), karena sebelum dipanggil, paling telat 15 menit sebelumnya, sudah siap dan duduk di atas sajadah.

Empat, dia tidak suka nunggu iqomat (apalagi lama-lama), karena begitu muadzin sampai menyeru ‘hayya ‘ala sholat’ ia sudah berdiri, posisi siap sholat menghadap kiblat, begitu mu’adzin di penghujung tugasnya, ia sudah mengangkat kedua tangan, berdoa, doa’ setelah adzan, dan tak sampai menurunkan tangannya ia langsung bertakbiratur ihram, sholat sunnah dua rokaat. Setelah salam, langsung iqomat berdiri untuk menunaikan sholat wajib.

Soal ringan kaki menunaikan sholat tentu merujuk kepada firman Alloh:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 ۗ وَاِ نَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ 
“Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 45)

Begitulah, tiada jeda, apalagi menunda waktu sholat. Inilah jiwa-jiwa yang melampaui muth’mainnah. Kalau jiwa yang muth’mainnah masih perlu dipanggil, kata pangersa, yaaa…ayyatulannafsul muthma’innah irjii… Sementara jiwa yang khusuk, ialah jiwa yang senang, tanpa menunggu diundang, kembali dan menyegerakan diri berjumpa (bermi’roj) dengan dan kepada Alloh. Inilah jiwa rodhiyah bahkan mardhiyyah. Subhanalloh walhamdulillah.

Semoga Alloh golongkan kita ke dalam kelompok orang-orang yang khusuk. Bikaromah Pangersa Abah Aos Alfatihah.

Salam khidmah,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.