JANGAN SIBUK MENELITI KEBURUKAN ORANG LAIN

FB_IMG_1577290569788_1.jpg

Alloh SWT berfirman :

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ  ۖ  وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا  ۚ  أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ  ۚ  وَاتَّقُوا اللَّهَ  ۚ  إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

” Wahai orang – orang yang beriman,  Jauhilah banyak berprasangka ( buruk ), sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari – cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Alloh, sungguh Alloh Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
( QS.  Al-Hujurot  / 49 : Ayat 12 )

TAJASSUS ( Mencari-cari Kesalahan Orang Lain )
Imam Abu Hatim bin Hibban al-Busthi rohimahulloh berkata :
“Tajassus ( mencari – cari kesalahan orang lain ) adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan.

Orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri, dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa letih.

Orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.

Dari Anas ra ia berkata , bahwa Rosululloh SAW telah bersabda :

طُوبَى لِمَنْ شَغُلَ عَيْبُهُ مِنْ عُيُوْبِ النّاسِ.

“Beruntunglah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak disibukan mengurusi aib orang lain.”
[ HR . al Bazzar ]

Pangersa Guru Agung memberikan Taujihatnya :

Jangan suka punya rasa diri paling baik di antara yang lain , tidak baik punya perasaan seperti itu. Kita harus rajin meneliti diri, sampai sejauh mana baik tidaknya diri kita. Sebaliknya, jangan suka sibuk meneliti orang lain. Ketika kita menunjuk  ( ke arah ) orang lain,  jari yang menunjuk-kan hanya satu, sementara, empat jari lainnya menunjuk ( ke arah ) diri kita sendiri. Harus jelas duduk masalahnya, sebelum ( menunjuk ) orang lain . Agama itu untuk diri sendiri, untuk memeriksa diri ( agar selalu menjadi lebih baik ) …”

Semoga bermanfaat.
Salam Ikroman Wa Ta’zhiman Wa Mahabbatan,

LUQMAN KAMIL ASH SHIDDIQ
————————————————–
Syarahan dari tulisan KH Rd Budi Rahman Hakim Al Kholish Ph.D MSW

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.