KELAS-KELAS PENUMPANG DI PENERBANGAN KE HADROT ALLOH

THORIQOH QOODIRIYYAH NAQSHABANDIYYAH MA’HAD SURYALAYA adalah penerbangan langsung tanpa transit ke Hadrot ALLOH. Penerbangan tercepat, melebihi kecepatan cahaya, melampaui kecepatan suara. Lebih cepat dari kata cepat.

Terimakasih setinggi Suryalaya sedalam Sirnarasa kepada yang tercinta para kapten pilot terpilih yang menerbangkan pesawat ini bebas pendaratan darurat.

Dalam penerbangan ini sedikitnya ada tiga kelas penumpang. Kelas-kelas ini sekaligus merupakan tahapan perjalanan murid sebagai penumpang dalam suluk penerbangan ke Hadrot ALLOH ‘azza wajalla. Kelas-kelas ini sekedar refleksi pengalaman sebagai bahan evaluasi perjalanan.

Pertama, murid penumpang kelas ekonomi-bisnis, yaitu, ketika mengamalkan ajaran masih dengan tujuan terpenuhinya hajat duniawi –misalnya, mengamalkan dzikir/khotaman/manaqiban/sholat-sholat sunnah, lantaran ingin usahanya maju, karir-gajinya naik dan atau segera dapet jodoh.

Murid penumpang kelas ini meletakkan fungsi amalan thoriqoh sebagai mantra ilmu hikmah. Jumlah murid kelas ini terbanyak. Salahkah? Tidak salah! Memang amalan ini secara spiritual memiliki fungsi ini juga. Hanya saja, pengamalan ajaran dengan tujuan untuk keperluan duniawi ini mesti memiliki izin resmi, ijazah dari Tuan Syeikh.

Kedua, murid penumpang kelas bisnis eksekutif, yaitu, mengamalkan ajaran dengan pengharapan pahala surga. Tujuan menjalankan amaliyah hanya ingin masuk surga –bahkan karena takut neraka. Amalan thoriqoh diletakkan sebagai fadhoilul amal (amalan-amalan utama) meraih surga. Melaksanakan setiap amalan untuk menambah point fadhilah.

Jumlah murid penumpang kelas ini masih banyak. Tidak mengapa, bagian dari perjalanan. Guru Agung juga memastikan ajaran amalan ini agar siapa saja masuk surga bukan hanya nanti tapi sejak sekarang. Ya, surga itu sekarang!

Ketiga, murid penumpang first class, yaitu mengamalkan ajaran tanpa syarat/pengharapan apa-apa. Semua dilakukan karena cinta. Thoriqoh sebagai amaliyah mahabbah. Inilah keadaan ketika murid tidak mentransaksikan/membarterkan amaliyahnya dengan hajat dunia atau balasan surga.

Murid penumpang kelas ini, jika pun berpengharapan, hanya mau Sang Pemilik Surga saja. Cinta-lah yang menjadi motivasi utama dari setiap amaliyah wal muamalahnya. Murid first class menikmati semua amaliyah di sepanjang perjalanan, karena amaliyah dirasakannya sebagai ungkapan/bahasa cinta dengan yang tercinta: ALLOH dan seluruh kekasih-NYA.

Demikian kelas-kelas penumpang pesawat terbang. Setiap kelas tentu mendapat layanan fasilitas ruhani yang berbeda-beda dan bertingkat. Semoga kita semua diperjalankan untuk terus naik kelas hingga di lingkar qurbah, bilbarokah Pangersa Abah al Faatihah. Aamiin.

Salam cinta,

KH Rd Mas Budi Rahman Hakim Al Khoolish, MSW., PhD. [Pembantu Khusus ABAH AOS/Ketua Penasehat MTQN Pusat/Doktor bidang Tashowuf & Thoriqoh dari Tilburg University School of Humanities and Digital Sciences, Tilburg, Belanda]

Check Also

PETUNJUK DZIKIR AGAR BISA MEMBUKA MATA BATIN

Dzikir menutup dua mata lahir/mata luar itu perintah Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam. Menutup …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.