KENAPA JANGAN MERASA MEMILIKI

Permasalahan hidup kita, dan manusia pada umumnya, dimulai ketika apa yang ada pada kita dan siapa yang di lingkaran terdekat kita sebagai sesuatu milik kita. Maksudnya?

Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan pengakuan kepemilikan seperti: “Rumah saya”, “perusahaan saya”, “jabatan saya”, “tanah saya”, “mobil saya”; “suami saya”, “isteri saya”, “anak saya”, “ibu saya”, “bapak saya”, “saudara saya”, “sahabat saya”.

Klaim ‘kepemilikan’ ini pada gilirannya sering menjadikan kita begitu cinta, begitu bergantung, begitu dekat bahkan lekat kepada semuanya. Tak bisa, tak ingin berpisah bahkan maunya terus ‘menguasai’ karena terlalu dalam rasa memiliki.

Sikap jiwa demikian telah membuat kebanyakan kita lalu lupa bahwa semua itu bukan kepunyaan kita melainkan titipan-NYA. Ya, titipan sementara yang setiap saat, kapan saja, akan diambil pemiliknya.

Proses pengambilannya sering tanpa pemberitahuan, semau dan sekehendak yang mpunya saja waktunya. Sikap jiwa merasa yang punya ini tentu amat berbahaya. Mengapa?

Saat tiba waktu diambil, kebanyakan kita, karena ketiba-tibaanya itu, sering tidak siap dan berat melepaskan. Seringnya banyak yang merana, menderita karena terlanjur ‘cinta’, terlanjur ‘sayang’. Ini karena terlalu tertambatnya hati kepada apa dan siapa yang pernah ada dalam hidup kita karena, sekali lagi, akibat terlalu dalam merasa memiliki.

Kini saatnya kita mengubah sikap jiwa, bahwa semua yang ada di sekeliling kita adalah sementara, bisa hilang, bisa pergi, bisa berubah.

Jangan bersandar untuk hidup, untuk bahagia, kepada semua yang nyata-nyata fana. Saatnya kita bersandar dan bergantung hanya pada-NYA saja.

Salam cinta,
KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.
[Pecinta Pencetak Wali ALLOH Abah Aos]

Postingan yang berkaitan

Anda juga bisa baca postingan di bawah ini!
Abah anom

ILMU MEREM TIDAK TIDUR

ILMU MEREM TIDAK TIDUR "Umum tau-nya merem itu tidur; nunduk merem itu tidur. Sejak 40 tahun sebelum Indonesia Merdeka sampai sekarang, Suryalaya 1 [Abah Sepuh] & 2 [Abah Anom] sudah mengajarkan 'merem itu tidak tidur'; 'nunduk merem itu tidak tidur'....

Apa yang kita makan, yang kita minum, mempengaruhi bukan hanya kondisi fisik tapi juga nonfisik. Jadi, kalau ada keanehan dalam kondisi tubuh dan status ruh pasti karena, disadari atau tidak, kita telah memasukkan makanan-minuman yang tidak dikehendaki tubuh dan ruh....

Karunia terbesar yang mesti kita syukuri --tapi kebanyakan tidak menyadarinya-- ialah bahwa pagi tadi, hari ini, kita masih diberi-NYA jatah waktu untuk menghirup nafas kehidupan. Mengapa karunia terbesar, karena per-pagi tadi saja, jutaan manusia di seluruh dunia berpulang dan tidak...

Karunia terbesar yang mesti kita syukuri --tapi kebanyakan tidak menyadarinya-- ialah bahwa pagi tadi, hari ini, kita masih diberi-NYA jatah waktu untuk menghirup nafas kehidupan. Mengapa karunia terbesar, karena per-pagi tadi saja, jutaan manusia di seluruh dunia berpulang dan tidak...

Tujuan langit menjalani laku kesufian itu, sebagaimana tegas dinyatakan Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad ialah BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA. Maksudnya? Mengamalkan dzikir itu harus sampai terbangunnya karakter pribadi: "Bageur laku lampahna, cageur tur jagjag belejag awakna," kata orang...

Dzikir dengan suara keras [بصوة قوي] dan dengan gerak pukulan yang terarah [بضرب شديد] itu bukan untuk-NYA tapi dari-NYA oleh-NYA untuk kita, manusia. Suara keras dan gerakan dzikir yang terarah itu vibrasi energi maha dahsyat yang frekuensinya meresonansi kuat untuk...

Load More