KENAPA KITA MESTI MENGENAL DIRI

138061549_246335456859337_7659763448145321029_o-e1610768559876.jpg

Manusia itu produk teknologi tercanggih, tersempurna dan termutakhir yang ALLOH ciptakan. Bukan hanya hardware-nya tapi juga software-nya. Bukan hanya struktur jasmaninya yang sempurna tapi juga anatomi ruhaninya yang super duper canggih.

Kalau kesempurnaan fisik (outer-dimension) manusia barangkali masih ada yang bisa mengkomparasikan, atau memperdebatkan, kehebatannya dengan ciptaan ALLOH lainnya seperti binatang. Tapi yang tidak bisa diperdebatkan keunggulan manusia dengan makhluk lainnya ialah kualitas nonfisiknya, yakni, teknologi akal dan hati yang tersimpul dalam ruhnya (inner-dimension).

Sayangnya sedikit sekali jumlah manusia yang menyadari dahsyatnya inner dimension diri mereka tinimbang outer dimensionnya. Kebanyakan manusia terhenti hanya mengeksplorasi pengetahuan dan terperangkap hanya mengagumi fisiknya, atau paling tinggi mengoptimasi akalnya. Karena minimnya (eksplorasi) pengatahuan tentang dimensi nonfisiknya, dimensi spiritual dalam dirinya, tak heran perilakunya tak lebih hewan bahkan lebih rendah dan sesat [بل هم اضلّ]. Sementara kualitas tertinggi manusia justru ialah mereka yang memaksimalkan penggunaan dimensi ruhani dalam diri-nya.

Mengapa ini terjadi?
Ini antara lain karena sedikit di antaranya yang mau membaca manual book –dan belajar pada ahlinya– tentang struktur dan anatomi mesin teknologi supercanggih yang bekerja di dalam diri mereka. Dengan pengetahuannya itu diharapkan ia bisa menjalankan fungsinya hingga mencapai level paling optimum. Karena keengganan mengenali betapa hightech-nya diri mereka maka tidak aneh bila banyak yang tidak tahu, keliru, bahkan gagal mengoperasikan dirinya secara maksimal.

Akibat keengganan mengenali dan menggali pengatahuan tentang mesin serta fitur-fitur software dirinya maka, ibarat sebuah piranti smartphone canggih, mereka hanya bisa mengoperasikan handphone tersebut pada level minimal –cuma untuk telpon-an atau sms-an. Jika pun berusaha mengotak-atik lebih jauh, hanya mengakibatkan kerusakan sistem bahkan memerlukan service besar untuk memperbaikinya. Tidak sedikit yang berujung kerusakan permanen, device hp-nya tidak bisa digunakan alias mati.

Sekali lagi, akan ada perbedaan mendasar antara manusia yang mengerti dan melek smartphone –karena mau belajar dari buku panduan maupun ahlinya– dengan yang tidak.

Manusia yang menguasai pengetahuan tentang luar-dalam handphone pasti akan bisa memaksimalkan penggunaan handphone pintarnya dengan maksimal, baik, dan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bukan hanya untuk telponan atau smsan, ia bisa mengeksplorasi dan menikmati ribuan aplikasi berbasis android maupun ios untuk tujuan have fun ataupun jelajah ilmu pengetahuan. Ia juga akan lebih hati-hati memakai gadget pintarnya, menggunakan fitur gadget sesuai fungsi-fungsinya. Kalau pun ada kerusakanan, ia bisa lebih mudah memperbaikinya sendiri.

Sementara orang awam, cuma bisa make saja, itu pun terbatas, kalau ada kerusakan bingung sendiri harus ngapain. Ia tidak bisa memanfaatkan fungsi-fungsi yang ada diaplikasi smartphone-nya baik untuk hiburan maupun jelahah pengetahuan. Persis seperti kera yang megang Iphone 12. Bisanya cuma dipegang-pegang, liat-liat, hanya untuk gaya-gayaan saja.

Manusia yang mengerti, mengkaji dan menguasai ilmu software, tentang ruh, maka ia akan bisa menikmati kegiatan berselancar di dunia ruh. Demikian, manusia akan tersadar ternyata ia bukan makhluk yang hanya sekedar tubuh tapi juga ruh yang bisa melintas cakrawala pengetahuan tentang jagat raya. Ada ruh yang butuh asupan pokok, lengkap suplemen vitamin dan gizinya, agar ia dibisakan-NYA bertamasya menembus ruang dan waktu di sebuah dunia tanpa batas.

Dengan berselancar di dunia yang melampaui fisiknya, dunia arwah, maka ia akan bisa lebih mengenal siapa Yang Maha Pencipta berikut segala ciptaan-NYA. Besar harapan dengan semakin mengenal-NYA, ia mengalami ‘musyahadah’ dan ‘mukasyafah’: ia makin dalam mengenal-NYA, mengenal betapa maha besar wilayah kekuasaannya, betapa maha dahsyat kekuatannya, betapa maha luas cakrawala ciptaan-NYA. Demikian, bertambah kagum, terposana dan jatuh cinta ia kepada Sang Maha Pencipta. Ini semua merupakan manifestasi adagium makrifat dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam:
من عرف نفسه فقد عرف ربّه.

Oleh karenanya, pelajari dan kenali diri kita, teknologi supercanggih yang pernah ALLOH ciptakan sebagai bentuk syukur untuk lebih bersyukur. Dan pintu awal masuk ke gerbang mengenal diri tak lain dengan Talqin Dzikir dari Ahlut Talqin Guru kekasih ALLOH. Demikian, ia menjadi manusia bersyukur dengan dzikirulloh agar hidupnya disyukuri-NYA, disyukuri kehadirannya oleh alam sekitar, dan bahagia sepanjang hingga puncak kehidupannya.

Salam Makrifat,

KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.
[Peselancar Dunia Ruh/Alumnus McGill University School of Social Work, Montreal, Kanada]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.