KENAPA MESTI HATI-HATI MEMILIH APA YANG DIMAKAN

38405392_305359410038685_4702401989781225472_n.jpg

Apa yang kita makan, yang kita minum, mempengaruhi bukan hanya kondisi fisik tapi juga nonfisik. Jadi, kalau ada keanehan dalam kondisi tubuh dan status ruh pasti karena, disadari atau tidak, kita telah memasukkan makanan-minuman yang tidak dikehendaki tubuh dan ruh. Jadilah penyakit jasmani, terjadilah gangguan ruhani.

Ajaran dan laku kesufian sangat serius sekali memberi perhatian pada apa yang kita konsumsi utamanya yang bisa mempengaruhi stabilitas emosi. Oleh karenanya, di dunia kesufian ada riyadhoh untuk tidak mengkonsumsi makanan yang bernyawa, yang memiliki ’emosi’ seperti manusia.

Di masa Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad, ada ijazah riyadhoh bernama ‘ngabeuti’. Seperti ‘puasa mutih’, di mana murid-murid yang sedang melakoni riyadhoh ini hanya mengkonsumsi ‘beubeutian’ –ubi, singkong, sayur-sayuran. Tidak dimasak apalagi menggunakan penyedap. Mereka tidak mengkonsumsi daging, ikan dan makhluq bernyawa lainnya.

Kenapa demikian?

Karena makanan yang berasal dari sesuatu yang bernyawa-beremosi itu mempengaruhi kesehatan dan kecerdasan emosi pelaku kesufian. Hewan-hewan itu merekam emosi mereka saat hidup hingga penghujung kematiannya dan ketika dikonsumsi jejak emosi itu terrekam oleh emosi pengkonsumsinya.

Di era industri daging untuk konsumsi saat ini, hewan-hewan diternak dengan massal melalui proses kimiawi dan saat tiba penyembelihannya mayoritas peternak mengabaikan etika agama. Lihatlah bagaimana hewan-hewan ini sejak diternakkan bahkan hingga saat penyembelihan, dibiarkan dalam keadaan stress, ketakutan, kepanikan, kemarahan, kebencian dan kondisi-kondisi emosi negatif lainnya. Belum lagi, hilangnya relasi emosional-spiritual antara penyembelih dan yang disembelih karena prosesnya sudah sangat mekanik, menggunakan mesin potong.

Kondisi emosi negatif hewan yang kelak kita konsumsi itu, sekali lagi, menyimpan memori emosi yang buruk dan akan terekam emosi tersebut oleh siapapun yang mengkonsumsinya. Pada gilirannya, konsumen dari daging yang diolah secara brutal dan tak sehat itu mempengaruhi emosinya: jadi lebih mudah marah, stess, panikan, dan senang membenci.

Oleh karenanya, mulailah berhati-hati mengkonsumsi daging yang prosesnya tak kita ketahui secara baik. Jika harus mengkonsumsi daging, pilihlah yang sejak proses ternak, pemilihan, penyembelihan dan pengurusan hewannya menjungjung tinggi etika ‘kehewanan’ seperti diajarkan Islam. Agar setelah dikonsumsi, menyehatkan jasmani terlebih rohani kita.

Di atas segalanya, saat menikmati wisata kuliner di mana dan kapan pun, sudah saatnya diri kita mulai mengajukan pertanyaan mendasar, apakah makanan yang akan kita lahap ini amat dibutuhkan tubuh untuk lebih sehat? Apakah hidangan yang akan kita santap ini bisa memberikan energi untuk saya lebih rajin beribadah, memberi kekuataan saat amaliyah/riyadhoh, dan menunaikan setiap kebaikan?

Sudah waktunya saat memilih makanan tidak lagi bersandar pada pertanyaan nafsu: enak atau tidak, kita suka atau tidak, tapi sudah soal pemenuhan kebutuhan kesehatan jasmani-ruhani. Ini sebagai bentuk kasih sayang kepada tubuh yang telah berjasa menjadi hunian ruh kita; mensyukuri tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Salam kuliner sehat,
KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.
[Dosen jurusan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta/Pengamal, pengaman, pelestari Ajaran Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah Ma’had Suryalaya]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.