KIBLAT KAUM SUFI [Bagian 1]

Di mana dan kapan pun sholat itu menghadap kiblat. Kiblatnya jasad menghadap Ka’bah di Mekkah [بيت الله ببكة مباركا]. Sementara kiblatnya ruh, hati ‘menghadap’ ALLOH di kedalaman hati [قلب المؤمن بيت الله]. Yang pertama disebut Kiblat Syariat, yang kedua namanya Kiblat Hakikat.

Ketika berdiri hendak takbirotul ihrom di manapun di muka bumi, dawuh Tuan Syeikh Asshomadany, kita wajib menghadapkan sekujur tubuh ke arah satu titik di kota Mekkah. Ketika menghadap “hadirkan” Ka’bah di hadapkan kita –apapun sekat fisik yang ada di depan kita. Bila tidak maka tidak sah sholatnya.

Begitu pun, ketika kita hendak berdiri menegakkan sholat, bahkan sejak di luar sholat, kita wajib (slalu) bertawajjuh: menghadapkan hati kepada ALLOH dengan mengingat ALLOH, dzikirulloh [ذكر الخفي] –apapun bacaan yang terdengar telinga ataupun yang diucapkan dimulut. Artinya, ketika telinga mendengar suara bacaan, mulut melafalkan bacaan sholat tapi hati mengingat satu nama-NYA, Rajanya Nama [سيّد الاسماء اي الاسم الاعظم] yang di-talqin-kan oleh Ahlut Talqin, para penerus dan pewaris Rosululloh Shollallohu ‘Alaihissalam.

Ketika menegakkan sholat kita wajib menghadap kepada keduan-duanya. Bila kita sudah dimampukan menghadap pada keduanya maka kita digolongkan-NYA sebagai orang-orang yang telah menegakkan sholat [مقيم الصّلاة]. Inilah orang-orang yang khusu’ [الخاسعين], orang yang di hatinya sudah tiada yang lain selain-NYA.

Karena tiada selain-NYA di hatinya maka tiada yang bisa membuatnya gelisah. Tiada sesuatu atau seseorang pun yang bisa mengusik apalagi mengganggu fokus perhatian hatinya yang hanya kepada-NYA. Apa yang dilihatnya tak dilihatnya apalagi mengganggunya, apa yang didengar tidak didengarnya apalagi memalingkannya.

Oleh karena demikian keadaan hatinya, ia slalu ringan, tenang dan senang dalam sholat-sholatnya. Inilah penanda, dzikir-dzikirnya telah membersihkan hatinya dari kotoran, dari bisikan, yang merusak dan mengganggu fokus ingatan serta perhatiannya yang hanya pada-NYA. BERSAMBUNG

Salam cinta,
KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.
[Pembelajar Sholat Khusu’]

Postingan yang berkaitan

Anda juga bisa baca postingan di bawah ini!
Abah anom

ILMU MEREM TIDAK TIDUR

ILMU MEREM TIDAK TIDUR "Umum tau-nya merem itu tidur; nunduk merem itu tidur. Sejak 40 tahun sebelum Indonesia Merdeka sampai sekarang, Suryalaya 1 [Abah Sepuh] & 2 [Abah Anom] sudah mengajarkan 'merem itu tidak tidur'; 'nunduk merem itu tidak tidur'....

Apa yang kita makan, yang kita minum, mempengaruhi bukan hanya kondisi fisik tapi juga nonfisik. Jadi, kalau ada keanehan dalam kondisi tubuh dan status ruh pasti karena, disadari atau tidak, kita telah memasukkan makanan-minuman yang tidak dikehendaki tubuh dan ruh....

Karunia terbesar yang mesti kita syukuri --tapi kebanyakan tidak menyadarinya-- ialah bahwa pagi tadi, hari ini, kita masih diberi-NYA jatah waktu untuk menghirup nafas kehidupan. Mengapa karunia terbesar, karena per-pagi tadi saja, jutaan manusia di seluruh dunia berpulang dan tidak...

Karunia terbesar yang mesti kita syukuri --tapi kebanyakan tidak menyadarinya-- ialah bahwa pagi tadi, hari ini, kita masih diberi-NYA jatah waktu untuk menghirup nafas kehidupan. Mengapa karunia terbesar, karena per-pagi tadi saja, jutaan manusia di seluruh dunia berpulang dan tidak...

Tujuan langit menjalani laku kesufian itu, sebagaimana tegas dinyatakan Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad ialah BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA. Maksudnya? Mengamalkan dzikir itu harus sampai terbangunnya karakter pribadi: "Bageur laku lampahna, cageur tur jagjag belejag awakna," kata orang...

Dzikir dengan suara keras [بصوة قوي] dan dengan gerak pukulan yang terarah [بضرب شديد] itu bukan untuk-NYA tapi dari-NYA oleh-NYA untuk kita, manusia. Suara keras dan gerakan dzikir yang terarah itu vibrasi energi maha dahsyat yang frekuensinya meresonansi kuat untuk...

Load More