MAHABBATULLOH: Mencintai Alloh, Mencintai Apa Saja & Siapa saja yang Dicintai-NYA [1]

123270223_901005613764198_2864677009458040948_n.jpg

Oleh: K.H. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.
[Pecinta apa saja dan siapa saja yang dicintai Tuan Syeikh/Direktur & Shareholder RAKYAT MERDEKA Media Group]

Puncak pencapaian dzikir itu cinta. Cinta kepada Alloh [محبّة الله] yang dimanifestasikan dengan mencintai para kekasih-NYA dalam rantai Ahli Silsilah di setiap masa. Manifestasi cinta seseorang kepada Alloh dan para kekasih-NYA itu ada peringkat sekaligus tahapannya.

Setiap peringkat, setiap tahapan, ada ujiannya. Ujian cinta yang mesti dilewati agar terus naik peringkat, hingga peringkat cinta tertinggi. Dalam bahasa sederhana, peringkat محبّة االله itu meliputi: 1) mencintai Alloh; 2) mencintai apa saja yang dicintai-NYA; 3) mencintai siapa saja yang dicintai-NYA.

Di setiap masa, terhitung sejak khalifah Kekasih Alloh pertama Nabi Adam As, ada yang lulus terus naik peringkat dan tidak sedikit jumlahnya yang gagal naik ke tahap berikut. Rasio jumlah yang lulus dan gagal slalu tidak berimbang. Jumlah mereka yang gagal dalam pendakian puncak محبّة الله slalu lebih banyak. Dan mereka yang lulus slalu lebih sedikit, bahkan termasuk golongan sedikit.

Rata-rata mereka mampu melewati tahapan satu. Sebagian banyak lalu mampu melewati tahap dua. Lanjut ke tahap terakhir jumlahnya semakin mengecil, semakin sedikit. Untuk mendapat ilustrasi, kita simak generasi pertama yang menempuh tahapan cinta ini.

Iblis ada generasi pertama yang dimampukan melewati tahap satu dan dua محبّة الله namun gagal di tahap tiga. Sebagai mana tercatat dalam sejarah, Iblis adalah awalnya malaikat, diciptakan Alloh jauh sebelum manusia ada.

Merujuk kitab tafsir ‘Marah Labid’ karya Imam an-Nawawi Al Batani, Iblis pernah menjadi pemimpin para Malaikat (Sayyid Al Malaikat) dan Bendaharawan Surga (Khazin Al Jannah) selama lebih dari puluhan ribu tahun. Seperti Malaikat lain, Iblis yang memiliki nama aseli Al Harits –sebagian menyebutnya Azazil– dikarunia empat buah sayap yang amat besar. Bahkan Iblis pernah hidup bersama para malaikat selama 80 ribu tahun. Ia juga pernah thawaf mengelilingi ‘Arsy bersama Malaikat selama 14 ribu tahun.

Dengan kualitas ketaatan yang demikian, maka tak perlu diragukan lagi iblis begitu mencintai Tuhannya, Alloh, dan mencintai apa saja yang diperintah Alloh. Bahkan dikisahkan, Iblis tak pernah mengaku lelah dan keluh kesah, slalu ikhlas dan ridha menjalankan perintah Alloh. Niatnya lurus hanya Alloh semata.

Karena keutamaan inilah yang membuat mereka dihormati oleh para malaikat lain. Dari langit pertama hingga langit ketujuh, malaikat begitu menghormati Iblis layaknya seorang prajurit kepada komandannya. Begitulah nama Iblis santer oleh penduduk langit maupun bumi. Bersama pasukannya, Iblis juga berhasil menumpas para jin yang dari bumi yang selalu berbuat kerusakan. Mereka mengejar para jin yang bersembunyi di dalam gunung dan laut. Diriwayatkan, karena semua ini mereka menyimpan takabbur di hati mereka secara rahasia.

Namun tiba Alloh menguji cintanya dengan menyuruh Azazil untuk bersujud kepada makhluq yang baru saja Alloh ciptakan, Nabi Adam As. Alloh memuliakan dan mencintai Adam bahkan menjadikannya makhluq paling mulia. Atas hal itu Alloh meminta kepada seluruh hamba-Nya untuk bersujud kepada Adam dan keturunannya. “Sujudlah kalian kepada Adam,” perintah Alloh.

Lantas bersujudlah para Malaikat Alloh kecuali Iblis. Hal tersebut ternyata karena Iblis merasa lebih baik dan inilah kegagalan ujian cinta tahap akhir. Mencintai siapa saja yang dicintai Alloh dan iblis ternyata tidak bisa melakukannya.

Rupanya… (BERSAMBUNG)

Salam cinta,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.