Oleh: K.H. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD. [Ketua Penasehat Pusat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa]

Salah satu butir Untaian Mutiara dalam TANBIH yang berbunyi ‘Menyayangi orang yang membenci’ atau ‘Mikaasih jalma nu mikangewa ka maneh’ itu, selain merupakan riyadhoh di atas rata-rata, juga merupakan alat ukur kecintaaan seseorang kepada ALLOH dan Syeikh Mursyidnya [ محبّة الله و محبّة الشيخ].

Seorang yang telah di-wushul-kan Guru Mursyid-nya ke maqom محبّة الله pasti dengan mudah melakoni riyadhoh ini. Bahkan boleh dinyatakan: hanya orang-orang yang sudah di maqom محبّة الله -lah yang bisa melakoni riyadhoh ini. Mereka yang masih kesulitan dan hatinya masih diliputi rasa benci maka itu tanda masih jauh perjalanan dalam suluknya.

Seorang yang sudah di maqom محبّة الله hatinya dipenuhi rasa cinta. Tiada tersisa sedikit pun ruang di hatinya rasa benci. Terhadap makhluq bernama Iblis/Syetan pun, seperti disabdakan Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, kita jangan membenci. “Cukup Syetan jadi musuh kita saja. Kalau kita membenci Syetan sama artinya kita membenci penciptanya, ALLOH.”

Kedudukan محبّة الله hanya bisa diraih oleh seorang yang telah istiqomah dalam dzikirnya. Ya, dzikir yang karena istiqomahnya telah menghasilkan terang cahaya dzikir [انوار الذكر] dalam dirinya, yakni, cahaya cinta yang menyinari hatinya. Dengan cahaya cinta itu pula ia dimampukan mencintai apa saja siapa saja tanpa kecuali.

Guru-guru Pecinta Kesucian Jiwa adalah suri tauladan dalam kesempurnaan menjalani riyadhoh istimewa ini. Berikut adalah beberapa sikap jiwa yang Pangersa Guru Agung ajarkan kepada penulis, alhamdulillah, dengan tuntunan sikap jiwa ini dimampukannya untuk melakoni riyadhoh luar biasa ini.

Pertama, hadirnya orang-orang yang membenci itu ibarat kita sedang menunggang kuda delman lalu duduk di samping kusir. Di tengah perjalanan kudanya kentut, nah, kita tak perlu marah-marah memaki kuda, tidak perlu berhenti lalu turun karena kentut kuda. “Orang-orang yang membenci itu kita anggap saja kuda kentut,” ucap Hadrotus Syeikh Abah Aos, mengutip sabda Guru Agung Abah Anom.

Kedua, hadirnya orang-orang yang membenci itu untuk menguatkan keyakinan kita pada ajaran. Jadi, harus berterimakasih. “Abah mah kepada Abu Jahal saja perlu,” begitu ucap beliau. Karena Abu Jahal pula –penentang perjuangan dakwah Islam di masa-masa awal– keyakinan umat menjadi kuat. Sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam yang dirujuk Pangersa Abah yakni,
انّ الله ليؤيّد الدين بالرجل الفاجر
Sesungguhnya Alloh menguatkan ajaran agama ini (Islam) dengan lelaki ini, yakni, Abu Jahal.

Ketiga, hadirnya orang-orang yang membenci itu, dawuh Guru Agung Tuan Syekh, menjadi alat kesucian jiwa. Mengapa, sebab wasilah kebencian mereka kepada kita, lalu kita sabar menyikapi bahkan menyayangi mereka, maka segala catatan amal buruk kita diambil dan berpindah ke rekening amal si pembenci. Sebaliknya, segala amal baik si pembenci terkuras habis, berpindah kepada kita, yang dibenci. Jadi kita mendapat transperan seluruh pahala kebaikan si pembenci.

Keempat, hadirnya orang-orang yang membenci, apalagi jika mereka adalah sesama murid Tuan Syeikh Abah Aos, sebagai latihan jiwa mencintai orang-orang yang dicintai Guru Agung. Pangersa Abah mencintai murid-muridnya, dengan mencintai dan tidak membenci mereka, berarti kita sedang riyadhoh ikut mencintai kecintaan Guru. Membenci mereka sama dengan membenci Guru. Oleh karenanya, cintai sayangi sebagai bentuk cinta dan sayang kepada Guru.

Demikianlah, sungguh tidak ada satu pun yang Alloh ciptakan sia-sia. Hadirnya orang-orang yang membenci memberi manfaat untuk kesucian jiwa dan menyempurnakan maqom ruhani kita. Alhamdulillah.

Salam cinta,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.