MA’RIFAT & CINTA KEPADA SYEIKH [3]

128277757_2685451415102426_24858410570076770_o.jpg

Tahap فناء في افعال الشيخ dalam perjalanan meraih keadaan ruhani Ma’rifat dan Cinta kepada Syeikh juga merupakan bagian dari manifestasi laku Shohbah [صخبة]. Di dalam Shohbah ada tiga laku kesufian yang mesti dijalani, yakni, berkumpul, bermujalasah bersama Syeikh [اجتماع], mendengar petuah, nasihat, irsyadat dari Syeikh [ استماع] dan puncaknya yakni ikut ucapan dan perbuatan Syeikhnya [اتباع].

Penting bagi seorang murid dalam fase فناء في افعال untuk mengetahui detail apa saja dan bagaimana Syeikhnya menunaikan Amaliyah Shufiyyah dalam kesehariannya –sebagai bagian ikhtiar Makrifat. Tidak cukup hanya membaca panduan buku Amaliyah tapi juga penting mengetahui bagaimana mempraktekannya melalui penjelasan maupun pelaksanaan saat-saat bersama Syeikhnya secara fisik –dari mulai cara thoharohnya, sholatnya, dzikirnya, khotamannya, pelaksanaan Manaqib dan sholat-sholat sunnahnya. Inilah fase صخبة الصغرى, belajar langsung dari the living book, kitab yang hidup.

Dengan sering bersama Syeikh, selain akan mendapat limpahan berkah dan karomah [فيضة], maka murid akan banyak pengetahuan tentang bagaimana detail Amaliyah Syeikhnya, demikian, ia bisa mengikuti Sunnah-sunnah Mardhiyah [سنن المرضية] Syeikhnya saat ia secara dhahir tak lagi bersama Syeikhnya. Jika murid slalu menyamakan frekuensi Amaliyahnya di mana pun dan kapan pun dengan Syeikhnya maka ia memasuki fase tertinggi cinta, yakni: ikut [اتباع]. Dengan ikut maka ia akan slalu ‘terbawa’. Fase ini sekaligus ia telah dan slalu dalam keadaan صخبة الكبرى kepada Syeikhnya.

Setiap apa yang dilakukan Syeikh itu dalil shohih bagi bagi murid dalam tata laksana peribadahan [الشيخ هو الدليل]. Mengapa? Karena apa yang dilakukan seorang Syeikh pasti segalanya semuanya dari gurunya dari gurunya dari gurunya dari gurunya hingga tersambung sanadnya kepada hadrot Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam. Seluruh perbuatannya adalah perbuatan seluruh اهل السلسلة yang puncaknya adalah Rosululloh Shollalohu ‘alihi wasallam.

Jadi ketaatan, ikutnya murid kepada Syeikhnya, merupakan perwujudan اتباع النبي صل الله عليه و سلم dan ini merupkaan sebentuk cinta kepada ALLOH [محبة الله] –sekaligus jalan meraih kasih sayang dan ampunan-NYA, berdasarkan firman ALLOH ‘azza wajalla.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Ali Imran : ayat 31)

قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ
Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(QS Ali Imran : ayat 32)

BERSAMBUNG

Salam cinta,
KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD
[Pembantu Khusus ABAH AOS]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.