MEMBUKA AURA [2]

FB_IMG_1613268035434.jpg

Oleh: KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.
[Ketua Dewan Kurator Universitas Saefulloh Maslul (USAMA) Sirnarasa, Ciamis, Indonesia]

Dari Aura kita sejatinya bisa melihat seberapa sehat kondisi fisik, mental dan ruh seseorang. Aura juga adalah tentang pancaran outer dan inner beuaty seseorang. Dan prosesnya sangat spiritual –bukan mistik apalagi magic.

Pendaran aura itu sangat terkait erat dengan derajat kesucian diri. Semakin tinggi derajat kesucian dirinya maka semakin terpancar, berpendar auranya. Semakin terpancar, berpendar auranya, semakin tinggi pesona dan personanya, semakin kuat daya pikatnya.

Kesucian apa gerangan?
Kesucian jiwa dan raganya, tentu. Dan untuk meraih kesucian itu mesti menempuh proses penyucian, yang dimulai dengan penyucian raganya lalu jiwanya. Pembersihan jasmaninya untuk kebersihanan ruhaninya. Dan untuk itu Pecinta Kesucian Jiwa mesti menempuh aktivitas penyucian diri [تزكية النفس] sesuai dengan tuntunan.

Apa saja gerangan?
Pertama, Guru Agung Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs memberi tuntunan untuk proses penyucian diri seseorang dengan membangun kebiasaan dengan penuh kesadaran untuk selalu mempunyai wudhu: selalu menjaga diri dalam keadaan berwudhu sepanjang dan selama mungkin. Dan jika batal karena sebab, seseorang mesti menyegerakan diri memperbarui wudhunya.

Yang dijaga dan slalu diperbarui tentu bukan hanya wudhu dhohirnya tapi juga wudhu batinnya.

Mutlak bagi murid dan pecinta Pangersa Abah untuk mengambil dan memperbarui wudhu dhahir dengan wudhu yang sempurna [بوضوئ تام]. Yaitu, wudhu yang tata cara/kaifiyat wudhu-nya sebagaimana beliau berwudhu. Kalau wudhu-nya tidak sesuai dengan apa yang dituntunkannya maka akan hilang manfaat dan keberkahan dari wudhunya.

Sebagaimana dituntunkan, sejak mulai bersentuhan dengan air wudhu, sadari dengan sepenuh hati ketika membasuh tubuh anggota wudhu, air itu bukan hanya membasuh dan membersihkan –kotoran fisik di pergelangan tangan, rongga mulut, lubang hidung, wajah, tangan, kepala dan kaki– tapi juga kotoran jiwa –amarah, kecewa, sakit hati, kesel, dumel, ganjelan. Air wudhu itu mesti diperlakukan dengan sakral, niatkan untuk meluruhkan segala noda luar dalam. Ademkan dan segarkan penatnya kehidupan dengan kesejukan air wudhu.

Selain menjaga wudhu syariat, untuk memantik cahaya aura ialah dengan menjaga wudhu bathin. Yaitu, menjaga diri dari buruk sangka. Ya, pembatal kesucian wudhu bathin itu prasangka buruk kepada apa saja dan siapa saja. Hindarkan jauhkan diri dari penyakit/kotoran suudzon di mana saja kapan saja.

Banyak sekali, sebagaimana sering dirujuk oleh Guru Agung, sabda-sabda Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan keutamaan wudhu kaitannya dengan pesona dan persona diri seorang penjaga wudhu: wajahnya putih bersinar dan tubuh anggota wudhunya berpendar cahaya bukan hanya nanti, di hari Kiamat, tapi sejak sekarang.
فإنَّهُمْ يَأتُونَ غُرًّا مُحَجَّلينَ مِنَ الوُضُوءِ، وأنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الحَوْضِ… –رواه المسلم–

Kedua, …. (Bersambung)

Salam aura,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.