AULIA ALLOH ialah manusia-manusia pilihan yang setiap gerak hidupnya sudah ber-LAA ILAAHA ILLALLOH. Penjaringan awal masuk dalam area kewalian [الولية] ialah melalui Talqin Dzikir dari Ahlut Talqin, Wali ALLOH yang terpilih [ولي المرشد] mendapat kuasa ruhani dari-NYA untuk melakukannya [اهل السلسلة].

Ketika seseorang masuk dalam penjaringan Talqin Dzikir [من يشاء] maka pilihan terbuka bagi siapapun untuk terus me-LAA ILAAHA ILLALLOH-kan diri. Yaitu, mempersilakan LAA ILAAHA ILLALLOH merasuk ke dalam raganya, menyatu dalam sukmanya dan menjiwa dalam setiap gerak hidupnya.

Tanda seseorang sudah di tahap itu maka ciri-cirinya antara lain seperti digambarkan dalam al-Qur’an Surat Yunus ayat 62:
أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sedikitnya ada dua ciri Aulia: 1) Tidak ada yang ia takuti kecuali ALLOH [لا خوف الا الله]; 2) Tiada kesedihan dalam hidupnya sepahit dan seburuk apapun kondisinya; tidak ada seorang pun atau tidak ada apapun-keadaan apapun yang bisa membuatnya bersedih; sebaliknya ia slalu bahagia –di sini senang di sana senang di mana-mana senang.

Mengapa? Karena ALLOH telah bersamanya, tenggelam dalam lautan cinta-NYA [ محبة الله]. Inilah seorang yang masuk dalam kategori seperti diilustrasikan dalam hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam: من كان مع الله –Seseorang yang keadaannya telah bersama ALLOH.

Lalu bagaimana agar لا اله الا الله menjiwa-meragasukma dalam diri-diri yang sudah ber-talqin?

Tiada lain caranya dengan merasukkan LAA ILAAHA ILLALOH ke dalam ingatan kita. Dari ingatan rasukkan LAA ILAAHA ILLALLOH ke dalam pikiran [conscious mind]. Dari pikiran rasukkan LAA ILAAHA ILLALLOH ke perasaan [subconsious mind]. Dari perasaan LAA ILAHA ILLALLOH akan merasuk ke kejiwaan [soul]. Dari kejiwaan LAA ILAAHA ILLALLOH menjelma ke perkataan dan perbuatan. Untuk itu semua maka caranya tak lain dengan meng-istiqomah-kan dzikirnya: banyak bilangannya, keras suaranya, terarah pukulannya, kompak irama dzikir jahar-dzikir khofi-nya.

Ketika LAA ILAAHA ILLALLOH sudah menjiwa itu tanda telah menyatunya LAA ILAAHA ILLALLOH ke dalam raga-nyawa-rasa-nya, ke dalam tiga lapis ruh, menyebar ke 7 lathifah [لطاءف] lalu menyeimbangkan unsur ka-Adam-an, ka-Muhammad-an dan ka-ALLOH-an dalam dirinya.

Ketika semua hal di atas terjadi, sekali lagi ketika LAA ILAAHA ILLALLOH sudah menjiwa-meragasukma, maka ia akan dijiwai LAA ILAAHA ILLALLOH. Adapun ciri-cirinya: ia slalu baik prasangkanya, berbudi pekerti perangai ucapan-tindakannya, senantiasa memberi manfaat hidupnya, dan slalu menebar cinta serta kasih sayang.

Semoga ALLOH berkahi kita kemampuan menjiwai dan dijiwai LAA ILAAHA ILLALLOH, bikaromah Pangersa Abah al Faatihah. Aamiin.

Salam Tauhid,
KH Budi Rahman Hakim al Khoolish, MSW., Ph.D [Doktor bidang Ilmu Tashowuf & Thoriqoh dari Tilburg University School of Humanities and Digital Sciences]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.