Bagian2 dari 4

Puncak Ihsan itu perasaan cinta. Cinta seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.

Perasaan (seolah) melihat, perasaan (slalu) dilihat, perasaan (slalu) dekat, perasaan (slalu) bersama Alloh, itu semua merupakan fase-fase perasaan. Fase-fase perjalanan cinta.

Perasaan cinta inilah yang akan membuat seorang hamba yang telah jadi kekasih-Nya ini bersedia berkorban apa saja, rela melakukan apapun, demi Dia yang tercinta.

Karena cinta yang menggebu kepada-Nya, ia terus menyempurnakan cintanya dengan melakukan apasaja yang diperintah dan apapun yang disenangi-Nya. Pada saat yang sama, ia akan membersihkan dirinya dari ucapan dan perbuatan yang dilarang dan tak senangi sang Kekasih pujaan.

Karena cinta ini pula, cara melihat dan sikapnya terhadap seluruh kegiatan ibadah berubah, yang semula menunaikannya hanya sekedar “gugur kewajiban” menjadi kebutuhan, yang semula dirasakan beban nan berat menjadi terasa ringan, tenang, dan senang.

Cintanya kepada Sang Khooliq akan menembuskannya ke fase perjalanan cinta kepada seluruh makhluq-Nya. Ia akan mencintai dan menyayangi apa saja dan siapa saja yang dicintai dan disayangi-Nya.

Kalau sudah demikian cintanya, ia telah benar-benar ‘lebur’ dengan-Nya. Sabda Kanjeng Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, ‘ketika seseorang jatuh cinta maka ia akan ‘bersama’ dengan yang dicinta.’

Untuk meraih kedudukan tertinggi Ihsan ini, ada caranya, ada petunjuknya. Setiap masa, Alloh mengutus utusan, utusan dari utusan-Nya, yang memberi manual-guide meraih cinta-Nya. Cari dan mintalah kepada kekasih-kekasih pilihan-Nya ini.

Haturnuhun Guru Sufi Agung. Laka bikaromatika al-Faatihah. Aamin.

Salam hangat,
AlKhoolish

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.