TANDA-TANDA CINTA & MA’RIFAT

Puncak pengharapan dan pencapaian seorang pesuluk ialah CINTA & MA’RIFAT kepada ALLOH. Ini seperti terrefleksi dalam ungkapan di setiap ia akan mengumandangkan dzikir:
الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبي اعطنى محبتك ومعرفتك
DARI mana datangnya CINTA?
Umum menjawabannya: dari mata turun ke hati. Kalau demikian rumusnya, bagaimana bisa seseorang jatuh cinta terhadap sesuatu yang tak bisa diindera dengan mata? Bagaimana menjelaskan fakta para Aulia di yang jatuh cinta kepada Dzat yang tak tampak dalam pandangan mata? Bagaimana bisa para Aulia jatuh cinta kepada ALLOH, kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, sedang mereka tak pernah memandang-NYA, bertemu dengan Rosul-NYA?
Ini artinya cinta tak slalu datang dari mata turun ke hati tapi datang dari hati turun ke mata, menjelar-menyebar ke sekujur tubuh. Lalu cinta menggerakkan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan perasaan cinta yang menggebu di hatinya kepada yang dicinta.
Cinta kepada-NYA dan cinta kepada para kekasih-NYA itu tidak datang tiba-tiba. Cinta itu tiba, tibanya di-tiba-kan dan diusahakan.
Fase pertama ikhtiar mentibakan perasaan cinta ialah dengan menanamkan benih unggul cinta melalui TALQIN DZIKIR. Fase selanjutnya merawat benih unggul cinta itu agar tumbuh jadi pohon cinta dengan cara mengamalkan dzikirnya. Dzikir yang sesuai petunjuk pelaksanaannya.
Semakin banyak serta tertib dzikirnya semakin baik pohon cinta itu tumbuh-mekar, akar cintanya menancap kuat ke bawah, cabang-rantingnya menjulang, daunnya mengembang dan buahnya ranum. Pohonnya rindang, nyaman serta indah dipandang mata. Banyak yang cinta karenanya. Inilah pohon mahabbatulloh (cinta ALLOH).
Apa tanda-tanda seseorang telah ditumbuhi dengan subur pohon MAHABBATULLOH?
Pertama, ia banyak menyebut-NYA [Dzikir Jahar]. Dan saat menyebut-NYA ia pun mengingat-NYA [Dzikir Jahar yang ada Dzikir Khofi-nya]. Dari banyak menyebut-NYA maka kapan dan di manapun ia akan slalu mengingat-NYA.
Kedua, dari banyak menyebut dan slalu mengingat-NYA maka ia akan mengenal-NYA, mengenal dekat dari dekat akhirnya semakin lekat dengan-NYA. Saking lekat kemana dan dimanapun bersama-NYA. Perlahan tapi pasti ia mengenal-mengetahui perbuatan-perbuatan [af’al] dan sifat-sifatnya [shifaat]-NYA. Ini tanda ia telah meraih kedudukan MA’RIFAT (معرفة الله).
Tanda ia telah MA’RIFAT, ia bukan hanya mengenal-mengetahui tapi kata-kata dan perbuatannya sesuai dengan apa perintah-perintah-NYA, menjauhi larangan-larangan-NYA. Ia ringan, tenang dan senang dalam ketaatan menjalani ibadah dan amaliyah sebagaimana laiknya para kekasih-NYA.
Tanda ke-Ma’rifat-annya menyatu dalam cinta (محبة الله), ia bukan cuma mengenal-mengetahui lalu melakukan perbuatan yang sesuai dengan-NYA tapi juga ia meniru sifat-sifat-NYA, senang melakoni kesukaan-kesukaan-NYA dan mencintau segala apa dan setiap siapa yang dicintai-NYA. Pada saat yang sama, ia pun menjauhi segala apa dan siapa yang tidak disukai dan tidak dicintai-NYA. Dengan demikian, sifat-sifat atau akhlaq-nya, mencerminkan akhlaq-NYA, akhlaq para kekasih-NYA yang luhur, yang mulia.
Tanda Ketiga seorang telah tenggelam dalam lautan CINTA dan MA’RIFAT, keseharian hidupnya slalu bahagia dan berbunga-bunga sesulit apapun kondisi kehidupan dunia, sepelik apapun masalah yang dihadapi. Ia slalu riang, senang dan menyenangkan kapan dan di manapun. Ia tak pernah mengeluh apalagi memprotes keadaan seburuk apapun.
Seorang yang telah meraih CINTA dan MA’RIFAT, menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, senang dalam shobar. Karena dalam syukur dan shobar ia temukan kekasih hatinya yang tercinta: ALLOH ‘azza wajalla.
Semoga kita tergolong dalam kelompok yang meraih kedudukan CINTA dan MAKRIFAT kepada-NYA dan para kekasih-NYA. Bilbarokah Pangersa Abah al Faatihah. Aamiin.

Salam CINTA dan MAKRIFAT,
KH Budi Rahman Hakim Al Khoolish, MSW., PhD. [Pembantu Khusus ABAH AOS/Ketua Penasehat MTQN Pusat/Doktor bidang Tashowuf dan Thoriqoh dari Tilburg University School of Humanities and Digital Scince, Belanda]

Postingan yang berkaitan

Anda juga bisa baca postingan di bawah ini!
Abah anom

ILMU MEREM TIDAK TIDUR

ILMU MEREM TIDAK TIDUR "Umum tau-nya merem itu tidur; nunduk merem itu tidur. Sejak 40 tahun sebelum Indonesia Merdeka sampai sekarang, Suryalaya 1 [Abah Sepuh] & 2 [Abah Anom] sudah mengajarkan 'merem itu tidak tidur'; 'nunduk merem itu tidak tidur'....

Apa yang kita makan, yang kita minum, mempengaruhi bukan hanya kondisi fisik tapi juga nonfisik. Jadi, kalau ada keanehan dalam kondisi tubuh dan status ruh pasti karena, disadari atau tidak, kita telah memasukkan makanan-minuman yang tidak dikehendaki tubuh dan ruh....

Karunia terbesar yang mesti kita syukuri --tapi kebanyakan tidak menyadarinya-- ialah bahwa pagi tadi, hari ini, kita masih diberi-NYA jatah waktu untuk menghirup nafas kehidupan. Mengapa karunia terbesar, karena per-pagi tadi saja, jutaan manusia di seluruh dunia berpulang dan tidak...

Karunia terbesar yang mesti kita syukuri --tapi kebanyakan tidak menyadarinya-- ialah bahwa pagi tadi, hari ini, kita masih diberi-NYA jatah waktu untuk menghirup nafas kehidupan. Mengapa karunia terbesar, karena per-pagi tadi saja, jutaan manusia di seluruh dunia berpulang dan tidak...

Tujuan langit menjalani laku kesufian itu, sebagaimana tegas dinyatakan Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad ialah BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA. Maksudnya? Mengamalkan dzikir itu harus sampai terbangunnya karakter pribadi: "Bageur laku lampahna, cageur tur jagjag belejag awakna," kata orang...

Dzikir dengan suara keras [بصوة قوي] dan dengan gerak pukulan yang terarah [بضرب شديد] itu bukan untuk-NYA tapi dari-NYA oleh-NYA untuk kita, manusia. Suara keras dan gerakan dzikir yang terarah itu vibrasi energi maha dahsyat yang frekuensinya meresonansi kuat untuk...

Load More