TUJUAN LANGIT MENGAMALKAN DZIKIR

134684346_243073363852213_3497893179274213929_o.jpg

Tujuan langit menjalani laku kesufian itu, sebagaimana tegas dinyatakan Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad ialah BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA. Maksudnya?

Mengamalkan dzikir itu harus sampai terbangunnya karakter pribadi: “Bageur laku lampahna, cageur tur jagjag belejag awakna,” kata orang Sunda. “Waras bergas,” kata orang Jawa. Sehat ruhaninya, sehat jasmaninya. Indah perangainya, prima kondisi fisiknya. Kuat jiwanya tangguh raganya.

Laku kesufian paling pokok dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam dan para Kekasih ALLOH penerus dan pewarisnya ialah ذكر الله, ingat ALLOH, yang tata caranya telah diatur melalui prosesi akad ruhani تلقين الذكر.

Mengapa dzikir? Karena dengan mengucapkan kalimah dan mengingat-NYA terjadi internalisasi keadaan dan sifat-sifatnya di kehidupan pengamalnya. Dapat disimpulkan bahwa:

Hanya dengan mengingat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang maka hidupnya akan penuh kasih dan berlimpah kasih sayang hidupnya;
Hanya dengan mengingat Yang Maha Baik maka akan baik-baik dan penuh kebaikan hidupnya;
Hanya dengan mengingat Yang Maha Luhur maka akan luhur budi pekertinya;
Hanya dengan mengingat Yang Maha Indah akan memperindah hidupnya;
Hanya dengan mengingat Yang Maha Cantik akan mempercantik parasnya.
Hanya dengan mengingat Yang Maha Kaya maka akan berlimpah kekayaan dalam hidupnya.
Hanya dengan mengingat Yang Maha Pemberi Rizki maka hidupnya berkah dengan rizki yang meruah.

Demikian, seperti hukum tarik menarik [law of attraction], kita akan menarik apa yang kita sering ucap dan ingat. Ucapan dan ingatan itu vibrasi energi yang kita kirim kepada-NYA dan akan meresonansi kembali kepada kita sebagai pengirimnya.

Salam langitan,
KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.
[Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.