HomeNgaji Tentang Dakwah Ala SufiTQN PP SURYALAYA & AGENDA PERADABAN DUNIA ABAD 21 (Bagian 5)

TQN PP SURYALAYA & AGENDA PERADABAN DUNIA ABAD 21 (Bagian 5)

Kalau kita membaca siroh Nabawiyyah dengan benar, seperti pernah diungkap oleh Syekh Imam Abdul ‘Abdul Aziz Abdin, PhD, Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyyah-Qoodiriyyah, California, Amerika Serikat, dalam International Talkshow di Pesantren Peradaban Dunia JAGAT ‘ARSY, menegaskan bahwa Ahli Silsilah no 3 TQN PP Suryalaya, Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam, adalah benar seorang yang kaya raya bahkan hingga akhir hayatnya. Syeikh Aziz melakukan riset mendalam tentang ini, dan dengan tegas menolak anggapan yang dikembangkan oleh para sejarawan Muslim yang mengatakan Nabi seorang miskin papa. Berikut ini adalah beberapa bukti akan kekayaan Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wassalam:

  • Bagaimana bisa, Baginda Rosululloh melaksanakan kewajiban Adami untuk bersikap adil kepada isteri-isteri, beliau memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, papan. Jika tiada harta benda pada-nya ketika masih hidup atau sepeninggal beliau.
  • Bagaimana bisa Kanjeng Nabi Muhamamad menjamu tamu-tamu yang sering datang dari jauh ke kediaman-nya, di serambi Mesjid Nabawi dan Nabi selalu memberikan jamuan kepada tamu-tamu-nya itu. Menurut Sayyid Aziz, Kanjeng Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam memiliki guest house untuk meningap para tamu yang datang dari jauh.

Kekayaan Kanjeng Nabi, menurut Professor American Open University ini, berasal dari kegiatan perdagangan beliau selagi usia belia yang di-merger dengan korporasi isterinya, seorang janda konglomerat, Sayyidatuna Situ Khadijah Radhiyallohuanha. Kekayaan beliau juga banyak berasal dari hibah para Sahabat-nya yang kaya, juga hadiah dari non-Muslim yang mereka melakukan itu semua karena mahabbah kepada beliau. Harus dibedakan, tegasnya, orang miskin dengan orang bergaya hidup miskin. Beliau itu seorang kaya-raya namun penampilan dhohir-nya memilih sederhana, pilihan pakaian-nya, gaya hidup-nya, tidak menunjukkan orang bergelimang harta, apalagi terperangkap dalam keduniaan. Tidak sedikit pun harta yang ada padanya masuk ke dalam hati-nya, sehingga saat umat Islam membutuhkan untuk perjuangan, diserahkan untuk kepentingan umat.

Di dalam ajaran ini, kita diperintahkan untuk selalu bersikap zuhud. Zuhud itu, tegas Guru Agung, bukan hidup miskin. Tapi, harus bisa melepaskan dunia. Kalau melepaskan berarti harus ada yang dilepaskan. Bahkan dalam bahasa terang dikatakan, kalau zuhud itu harus kaya dulu, harus punya harta benda dulu, lalu lepaskan itu semua, keluar-kan semua dari hati. Jangan diaku. Bahkan, Tuan Syeikh menyatakan sekaligus menasihatkan dengan jelas: bahwa hati itu adalah rumah yang tidak cukup untuk berdua. Artinya, diri kita pun harus ikut keluar dari hati, hanya Alloh saja yang menghuni hati kita. Alhamdulillah.

Dengan demikian, ajaran yang kita amalkan ini adalah tegas memerintahkan untuk menguasai dunia bukan dikuasai dunia, dikejar dunia, dan bukan mengejar dunia. Untuk sampai ke sana tentu saja memerlukan proses. Harus ada keinginan agar di-ingin-kan, harus ada kemampuan agar di-mampu-kan untuk ber-mujahadah (perjuangan tiada henti) untuk meraih kekayaan dunia untuk akhirat. Untuk meraih kekayaan dunia ada ilmu-nya, ada caranya, dan ada teori-nya. Berenang saja ada ilmunya, ada caranya. Guru Agung menegaskan ambilah ilmu dari mana saja, dan dari siapa saja. Sudah banyak referensi literatur, seminar, atau talkshow yang mengajarkan tentang bagaimana memiliki mental state orang sukses dan kaya raya, lalu, bagaimana cara meraih itu semua. Beberapa referensi yang bisa diakses seperti buku dan seminar bertema: How to Get Rich, Secret to be Rich, The science of getting success, the science of getting what we want, Revolusi Finansial, dan ada juga buku panduan Rich Dad Poor Dad.

Pintu-pintu rezeki itu banyak. Sembilan puluh persen dari sepuluh persen pintu rezeki, seperti disabdakan Kanjang Nabi Muhammad dan sering dinukil oleh Pangersa Abah, ada di dalam perniagaan:

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ ( حديث ضعيف من نعيم ابن عبد الرحمن، ولكن لفضائل الأعمال )

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”

Menekuni bidang perdagangan juga ada ilmunya. Dan kita diperintahkan oleh Guru Agung untuk mempelajari. Ini seperti tertuang dalam kisah di masa lalu, ada seorang Ikhwan yang datang kepada Guru Agung Abah Anom, menyatakan keinginannya agar ada kemajuan dalam usaha/bisnis yang sedang ditekuninya. Jawaban spontan beliau, meski terdengar seperti kelakar tapi terselip perintah untuk tetap belajar bisnis kepada ahlinya, yaitu:

“Salah datang atuh bageur, mun rek diajar dagang mah, tuh ke si engko, di luhur”

Artinya: Salah datang sayang, kalau mau belajar dagang, tuh datangi si enko yang di atas” (seraya menunjuk ke pabrik aci, yang posisinya berada di atas kampung Godebag.)

Sementara itu, pada saat yang sama, tentu saja, kita, apapun bisnis yang ditekuni, apapun profesi yang dijalani, tetap tegak lurus meniti jalan keimanan dengan selalu melakukan Amal Sholeh untuk menjadi Orang Sholeh. Kenapa harus jadi Orang Sholeh? Karena syarat agar jadi manusia yang dikejar-kejar dunia itu, ialah harus jadi Orang Sholeh. Sering kita dengar Guru Agung berdoa, yang harus kita Alhamdulillah Aamin-kan, yakni, “Semoga kita semua jadi Orang Sholeh, yang tidak mengejar dunia, tapi, dunia pontang-panting mengejar kita,” Al-Faatihah. Aamin. Di atas segalanya, dunia ini hanya diwariskan kepada Orang-orang Sholeh. Kalau ingin jadi pewaris dunia, jadilah orang Sholeh. Dan ajaran yang jadi amalan kita ini adalah jalan Orang Sholeh agar kita menjadi Orang Sholeh. Garansi pewarisan dunia kepada Orang Sholeh tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 105:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ ( الأنبياء : 105 )

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwariskan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh.

Pertanyaan kemudian, amal apakah yang akan membuat kita jadi Orang Sholeh? Tidak ada lain semua dimulai dengan mengamalkan Dzikir Kalimah Sholeh dan Sholehnya, dua Dzikir yang ditanamkan dan wajib kita dawamkan. Tentang Dzikir Kalimah Sholeh dan Sholehnya untuk kita jadi sholeh, simak Sabda Kanjeng Nabi dari Sahabat Abu Dzar al-Ghifari,

قُلْتُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ كَلِّمْنِي بِعَمَلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ الجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ إِذاَ عَمَلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا عَشْرَ أَمْثَالِهَا، قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ ، قَالَ هِيَ أَحْسَنُ الحَسَنَاتِ وَهِيَ تَمْحُوْ الذُّنُوْبَ وَالْخَطَايَا

Artinya: ”Katakanlah padaku wahai Rasululloh, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallAllohu ’alaihi wa sallam bersabda,”Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ’laa ilaha illAlloh’ merupakan kebaikan?” Nabi shallAllohu ’alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat itu (laa ilaha illAlloh) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.

Pada saat yang sama juga, menempuh proses menguasai dunia, kita juga harus tetap meningkatkan ketaqwaan dengan terus dawam Dzikir Kalimah Taqwa seraya meng-hidup-kan Taqwa-nya di kedalaman hati. Sebab, hanya dengan ke-Taqwa-an inilah perjalanan hidup kita di dunia ini akan mengikuti rumus Al-Quran Surat At-Thalaq ayat 2-3:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا   # وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ( نقل من : سورة الطلاق: 2-3 )

 Artinya: “Siapa saja yang ber-Taqwa kepada-KU, kata ALLOH, maka aku akan selalu sediakan: 1) jalan keluar dari segala persoalan; 2) anugerah rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.”

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Popular