Merdeka yang Sesungguhnya

Panji Makalalag
Panji Makalalag
2 Min Read

Oleh: Dr. K.H. Akbar Mardani
(Wakil Talqin Pangersa ABAH AOS dari Bogor)

Tidak bisa disebut merdeka dengan hakikat merdeka ketika kita masih bergantung atau menggantungkan diri kepada selain الله‎. Hanya dengan menggantungkan diri kepada الله‎ maka kita akan terbebas dari belenggu kehidupan yang memenjarakan kita. Di situlah kita memahami makna kalimah tauhid لا اله الا الله (Tiada tuhan selain الله‎).

Makna dan implikasi kalimah tauhid tersebut sangatlah dahsyat: tak ada yang dituju selain الله‎, tak ada yang dikehendaki kecuali الله‎, tiada yang disembah selain الله‎, dan lain semacamnya. Ketika kalimat thoyyibah itu dimaknai seperti itu serta kemudian kita menyesuaikan sikap dan perilaku keseharian kita seperti itu, maka yakinlah bahwa kita berada dalam pengaturan dan jaminan الله‎. Kita pasti terbebas dari kegelisahan dunia, kegalauan dan kesedihan bendawi serta dari berbagai belenggu-belenggu lainnya.

Fudlail bin Iyadl berkata: “Ketika engkau sudah bersihkan hatimu dari selain الله‎, maka semua yang engkau butuhkan akan dihadirkan oleh الله‎.”

Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Jika engkau mencintai الله‎, merasa kaya dengan memiliki الله‎ dan tunduk pada hukum-hukum الله‎, maka engkau tak lagi butuh kepada siapa-siapa, tapi engkau akan dibutuhkan siapa saja.”

Merdeka adalah ketika hati kita bebas, pikiran kita bebas, perbuatan kita bebas dan semuanya serba bebas; bebas menentukan segalanya dengan sikap bertanggungjawab kepada الله‎ Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika ketergantungan kepada الله‎ tiada, sungguh kita akan terpenjara oleh keinginan nafsu yang tak pernah menemukan akhir.

Share this Article
Leave a comment