BERKATA BENAR ATAU DIAM

Panji Makalalag
Panji Makalalag
4 Min Read

Oleh: Syaik Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs
(Wali Mursyid TQN PP Suryalaya silsilah ke 38)

Seorang ulama Tashowwuf berkata kepada salah seorang muridnya, “Dari sekian banyak murid yang ada, belum tentu duapuluh persennya yang jadi.” Dari pebincangan ini sang guru kata “Jadi” untuk menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang mukmin yang hakiki itu tidaklah sekedar mendapatkan Talqin Dzikir lalu kemudian terabaikan, sehingga ketajaman hatinya menjadi tumpul.

            Perbincangan di atas semestinya juga menjadi Tadzkiroh (peringatan) bagi segenap murid yang mengharapkan keberhasilan dalam mendalami makna ajaran yang diberikan guru. Selain itu juga perlu ditumbuhkan kemauan untuk selalu mengamalkan, mengamankan dan melestarikan ajaran Islam sesuai dengan prinsip-prinsip yang dicontohkan para ulama Tashowwuf.

            Untuk mengukur apakah kita sudah bisa dikatakan sebagai “murid jadi” atau hanya sekedar “jadi murid” tolak ukurnya Adalah seberapa banyak kita telah melakukan amal shaleh yang Sesuai dengan ajaran oleh para sufi, misalnya sudahkan kita melaksanakan sholat pada awal waktu secara berjamaah di mesjid Dengan tanpa ada rasa terbebani, menghormati tamu, bersikap Baik terhadap sesama makhluk الله‎, dan seberapa khidmat kita melaksanakan amaliah ibadah.

            Jika belum, berarti kita masih harus Terus berupaya agar bisa mengamalkan amalan dengan istiqomah. Jika hanya mengaku sebagai murid, maka semua orang pun bisa. Ia hanya tinggal datang kepada Wakil Talqin dan meminta Membacakan kalimah “Laa Ilaaha illalloh‎” tersebut serta berusaha Untuk menanamkan makna dari kalimat tersebut dalam Ruh. Permasalahannya adalah bahwa meminta Talqin Dzikir dari Wakil Talqin saja tidak cukup, konsekuensi dari pemberian kalimat Talqin Inilah yang berat.

            Seseorang yang telah di-Talqin Dzikir maka Hendaknya ia menunjukkan sikap perilaku yang sesuai dengan Ajaran Al Qur’an dan Sunnah. Hal ini identik dengan pernyataan Muslimnya seseorang. Ia cukup mengucap Syahadat maka secara otomatis ia menjadi seorang yang beragama Islam. Tetapi apakah Syahadat saja cukup? Jawabnya tentu tidak, Islam menuntut para penganutnya Untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.

            Untuk bisa menjadi seseorang Yang benar-benar Muslim tentunya memerlukan upaya yang Sungguh-sungguh. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah Dengan senantiasa berdzikir kepada الله‎ dalam setiap hembusan Nafas kita. Mengenai pernyataan keimanan dan konsekuensi yang Harus ditanggung atasnya, terdapat sebuah kisah yang terjadi pada Zaman Rosululloh.

            Kala itu Rosululloh didatangi oleh sekelompok Orang Badui yang menyatakan bahwa mereka telah menetapi Keimanan. Namun الله‎ SWT menyatakan dalam firman-Nya Bahwa mereka belum beriman, adapun firman-Nya itu adalah Sebagai berikut:

قَا لَتِ الْاَ عْرَا بُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِ يْمَا نُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۚ وَاِ نْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَا لِكُمْ شَيْئًــا ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Orang-orang Arab Badui berkata, Kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka), Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah tunduk (Islam), karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada الله‎ dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, الله‎ Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 14)

            Ayat ini memberikan gambaran yang jelas kepada kita mengenai keimanan yang benar-benar diterima hendaknya muncul dari dalam hati sanubari yang paling dalam. Dari ayat ini Pula lah kita mendapatkan kejelasan bahwasannya meski seseorang secara zhohir telah melakukan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, Menunaikan ibadah haji tetapi bila hatinya lupa kepada الله‎, Maka apa-apa yang telah ia nyatakan nampak seperti sebuah senda Gurau semata. Oleh karena itu, maka sudah sewajarnya jika kita memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan Kalimah iman dalam dada.

Dikutip dari buku: Lautan tanpa tepi
(Karya Hadrotus Syaikh Pangersa ABAH AOS Ra Qs)

Share this Article
1 Comment