Hati Syaikh Mursyid adalah Hadrot  الله‎

Panji Makalalag
Panji Makalalag
8 Min Read

Hadrotus Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul saat menyampaikan Taujihat wal irsyadat pada Manaqib di Pesantren SIRNARASA Kajembaran Rohmaniyyah (27/08/2023)

Berikut ini adalah Taujihat Wal Irsyadat Hadrotus Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul yang disampaikan pada Pengajian Anti Gempa MANAQIB Tuan Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani Qs di Kajembaran Rohmaniyyah SIRNARASA:

KITA ADALAH SAMPAH
Sabda Pangersa Abah Anom kepada Pangersa Abah Aos, “Kita ini sampah, tidak akan kemana-kemana tanpa menaiki Karomah” Pangersa Abah Aos menjelaskan juga bahwa sebelum ke berguru kepada Abah Anom beliau bukanlah siapa-siapa, bahkan menyebut diri beliau sendiri sebagai “sampah masyarakat” dan yang menjadikan beliau manusia yang bermanfaat sampai saat ini adalah Pangersa Abah Anom.

Berguru kepada Abah Anom tidak hanya merubah diri beliau menjadi lebih baik lagi, jika diibaratkan mobil yang sudah rusak, mesin-mesinnya tidak hanya diperbaiki tapi diganti dengan yang baru oleh Pangersa Abah Anom.

BIJAKLAH DALAM MENCINTAI
Sabda Kanjeng Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wassalam, “Engkau bersama dengan siapa saja ynag engkau cintai” Hal ini merupakan pelajaran penting bagi kita yang seringkali salah dalam menentukan siapa yang mesti kita cinta. Dengan demikian bijaklah dalam mencintai, karena kita akan bersama dengan orang yang kita cintai, dan cara mencintai yang sudah pasti bijak adalah mencintai Syaikh Mursyid, dan siapa saja yang mencintai Syaikh Mursyid maka ia akan selalu bersama dengannya. Mencintai Pangersa Abah Aos maka sudah pasti akan  selalu bersama dengan beliau.

MEMBUKA PINTU KESEJAHTERAAN DUNAI DAN AKHIRAT
“Hati Syaikh Mursyid adalah Hadrot  الله‎ bagi murid, dan panca indranya adalah pintu-pintu hadrot  الله‎. Kapan saja murid mendekatkan diri kepada gurunya dengan pendekatan Syariat  (melaksanakan Amaliah syaikh mursyid) maka pasti dibukakan bagi murid tersebut, pintu-pintu kesejahteraan dunia dan akhirat”

FADHILAH ROBITHOH (INGAT GURU)
Abah Aos pernah ditugaskan oleh Pangersa Abah Anom untuk memberikan tausiyah di salah satu tempat pengajian yang berlokasi di daerah Malangbong, Kabupaten Garut,  namun ada hal yang janggal dari tempat pengajian tersebut, dimana setiap mubaligh yang menyampaikan ceramah seringkali mengalami muntah darah. Abah Aos pun tiba dan duduk di kursi sembari menunngu panggilan dari Protokol Acara, tak lama kemudian ada seorang kyai yang duduk disamping Abah Aos dan menupuk paha sebelah kiri Abah Aos, kyai tersebut berkata, “Hati-hati Ajengan disini mah Citungku juga muntah darah” Ajengan Citungku merupakan Mubaligh ternama di daerah Jawa Barat yang terkenal dengan Keluasan dan kedalaman Ilmunya. Mendengar Perkataan kyai tersebut Abah Aos merespon, “Citungku mah orang pandai, 22 tahun belajar di Mekkah, pasti banyak yang nguji, saya mah tidak tahu apa-apa, tidak mau apa-apa, saya hanya disuruh Abah Anom.”

Tak lama kemudian tibalah saat bagi Abah Aos untuk menyampaikan tausiyah, semuanya berjalan lancar dan mulus tanpa adanya tanda-tanda peristiwa muntah darah. Ada satu hal yang janggal yakni Ketika pangersa Abah menaiki panggung dan menyampaikan ceramah, kyai yang tadi memberikan peringatan kepada Pangersa Abah justru menghilang, dan pangersa Abah pun menyampaikan bahwa yang melakukan terror kepada para mubaligh adalah kyai tersebut.

Berdasarkan kisah tersebut  Pangersa Abah menyimpulkan “selama 44 tahun berguru ke Suryalaya nyamuk juga tidak berani gigit”, hal ini sebagai bentuk tasyakur atas dahsyatnya karomah Pangersa Abah Anom dalam melindungi murid-muridnya dimanapun sang murid berada.

Ujian Untuk Sang Murid Jadi
Sebelum Abah Aos berguru kepada Abah Anom, beliau sudah terlebih dahulu aktif dalam kegiatan dakwah khususnya di Kecamatan Panjalu. Nama Ajengan Gaos pun sudah tak lagi asing di telinga masayrakat setempat. Memenuhi undangan untuk menjadi Khotib atau Penceramah telah menjadi aktivitas yang setiap harinya dijalani. Abah Aos dikenal dengan sosok penceramah yang cerdas dan berkharisma, tidak heran apabila Pangersa Abah kerap kali diundang untuk menyampaikan Nesehat-nesehat Keislaman. Tidak hanya aktif dalam memenuhi undangan pengajian, Pangersa Abah juga menyelenggarakan Majelis di kediaman beliau yakni Pondok Pesantren Al Ishlah (saat ini Sirnarasa), Setidaknya terdapat kurang lebih 700 Jama’ah yang berpatisipasi pada pengajian tersebut.

Adik kandung beliau Alm. K.H. Ucu Syamsudin sudah lebih dahulu berguru kepada Abah Anom dan sempat mukim di Suryalaya selama 2 tahun. Pada 14 Maret 1968 setelah menunaikan Sholat Subuh Abah Aos datang ke Suryalaya denga berjalan kaki dari Pondok Pesantren Al Ishlah guna mengambil Talqin Dzikir dari Abah Anom, dan pada tahun itu juga Pangersa Abah menghadapi ujian yang amat luar biasa. Kala itu fitnah terhadap Abah Anom dan Pondok Pesantren Suryalya sudah tersebar luas dimana-mana, sehingga masyarakat pada saat itu memiliki stigma yang kurang baik terhadap Abah Anom dan kepada siapa saja yang berguru kepada beliau.

Pandangan kurang baik ini terlihat dalam bentuk penghalangan terhadap segala macam kegiatan yang memiliki hubungan dengan Abah Anom dan Suryalaya.  Setelah  Tokoh-tokoh Masyarakat, dan warga setempat mengetahui bahwa Abah Aos berguru kepada Abah Anom, mereka pun mulai membatasi bahkan menutup ruang lingkup dakwah Abah Aos: Seluruh 700 Jama’ah di Pondok Pesantren Al Ishlah memutuskan untuk membubarkan diri, tidak hanya itu, Salah satu Tokoh Masyarakat memberikan peringatan kepada para warga, “Ajengan sudah terkena sihir abah anom, Tidak boleh diundang menjadi Khotib, Imam, atau ceramah. Biarkan saja dia (Abah Aos), mau darimana makannya?!” ucap seorang Tokoh Masyarakat sebagai bentuk pemblokiran terhadap kegiatan dakwah dari Abah Aos.

Rasa Sakit Hati tak dapat dihindari oleh Abah Aos. Ketika beliau tiba di Suryalaya dan menemui Pangersa Abah Anom, “diajar torekat teh tanggungjawab jeung nyatuna deuleu (siapa saja yang belajar Thoriqoh makan kebutuhannya diurus oleh Guru Agung)” kata pangersa Abah Anom yang mengetahui kondisi hati muridnya yang rasa cinta dan baktinya terhadap ajaran tengah diuji, kalimat yang keluar dari lisan suci Abah Anom menjadi obat pelipur lara dan penyemangat Abah Aos dalam melalui seluruh rangkaian ujian dari Abah Anom.

Kesabaran, Ketabahan, dan ketangguhan Abah Aos dalam menghadapi aneka ragam ujian yang diberikan kepada beliau saat ini berbuah manis, Pada saat ini setidaknya terdapat lebih dari 1000 jamaah yang hadir tiap bulannya di Pesantren Sirnarasa, setiap harinya selalu ada tamu yang ingin bertemu Abah, undangan Manaqib datang dari berbagai penjuru, dan tidak sedikit tokoh-tokoh Masyarakat hingga nasional, bahkan dari mancanegara dengan latar belakang yang berbeda-beda mau meluangkan waktu mereka untuk datang ke Sirnarasa, walau hanya sekedar untuk mencium tangan beliau dan mendengar petuah-petuah yang beliau sampaikan.

Jumlah titik dalam Al Qur’an
Dawuh Pangersa ABAH AOS, “Terdapat 17824 titik dalam Al Qur’an, yang jika dijumlahkan (1+7+8+2+4) sama dengan 30 juz”

Para Utusan  الله‎
Dawuh Pangersa ABAH AOS, “Profesor itu adalah utusan  الله‎ yang mentablighkan ilmu  الله‎ dengan bahasanya masing-masing”

Benteng Kesucian Jiwa
Dawuh Pangersa ABAH AOS, “Sholat Tasbih itu benteng kesucian jiwa (karena disertai oleh bala tentara  الله‎), makannya Abah tidak takut apa-apa”

Stok kebaikan dari guru
Dawuh Pangersa ABAH AOS, “Kalau muridku buruk maka akulah yang baik”

SIRNARASA, 27 Agustus 2023

Share this Article
Leave a comment