IBADAH PUASA JALAN SUNYI MENUJU الله

Panji Makalalag
Panji Makalalag
7 Min Read

Oleh: K.H. Mahmud Jonsen Al Maghribi, M.Si.
(Wakil Talqin Pangersa ABAH AOS dari Tanggerang)

Dalam sebuah hadits, Rosululloh bersabda :

عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله! مُرْني بأمر آخذه عنك، ينفعني الله به، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (عليك بالصوم، فإنه لا مِثلَ له)، وفي رواية: (لا عِدلَ له) رواه أحمد والنسائي والبيهقي بإسناد صحيح.

Dari Abu Umamah al Bahili ra, dia berkata, “Aku berkata wahai Rasululloh! Katakan kepadaku sesuatu yang dapat kuambil darimu dan semoga الله memberi manfaat kepadaku. Kemudian Rasululloh SAW bersabda: “Kamu harus berpuasa, karena tidak ada yang menandinginya”. (HR. Ahmad, An Nasa-i, Al Bayhaqi).

Kemudian dalam hadits Qudsi Nabi SAW juga pernah bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ

“Seluruh amal anak Adam itu baginya (untuknya sendiri) kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu bagi-Ku (untuk-Ku) dan Aku yang membalasnya”. (HR. Bukhari).

Apa yang dimaksud dengan “Baginya” (له)? Dan apa pula yang dimaksud dengan “Bagi-Ku” (لي) dalam hadits ini?

Maksud “baginya” (له), dalam hadits tersebut, menurut Al Qurtuby, artinya amalan ibadah lainnya telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia, bahwa الله akan melipatgandakan pahalanya dari 10 hingga 700 kali lipat, kecuali puasa, puasa itu الله sendiri yang akan memberi pahalanya tanpa Batasan.
Sedangkan makna dari kata Bagi-Ku (لي) pada hadits tersebut ialah menunjukkan kemuliaan ibadah puasa disisi الله.

Cukuplah ungkapan ‘puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Penyandaran puasa untuk-Ku adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan.
Sebagaimana ungkapan “Baitulloh” (rumah Alloh), nah, meskipun semua rumah itu milik الله. Demikian pulalah Puasa.

Syaikh Al Akbar Muhyiddin Ibu Arobi ra. Dalam kitabnya yang terkenal Al Futuuhatul Makkiyah, beliau mengatakan bahwa, Puasa merupakan sifat “Samdaniyyah” (sifat khusus yang hanya dimiliki الله تعالى sebagai Maha Tempat Bergantung) yang berupa pelepasan dan penyucian dari makanan. Sementara hakikat makhluk sebetulnya menuntut adanya makanan.

Sehingga ketika seorang manusia bertekad melakukan sesuatu yang bukan termasuk hakikatnya dan dikerjakan semata tuntutan syariat, maka الله sendiri yang akan menentukan dan memberikan pahalanya.

Lebih jauh beliau, mengatakan, seakan-akan الله menyatakan kepada orang yang berpuasa, “Akulah yang menjadi imbalannya, karena Akulah yang dituntut oleh sifat pelepasan dari makanan dan minuman, tetapi engkau melekatkan sifat itu padamu wahai orang yang berpuasa“.

Perhatikan, makna (وأنا أجزي به) yang diartikan “Dan Akulah yang akan membalasnya”, menjadi berarti “Dan Akulah balasannya”. Maka artinya, balasan puasa adalah الله itu sendiri, oleh karena itu ibadah Puasa itu seyogyanya adalah Ibadah Musyahadah, yakni Penyaksian atas الله تعالى، Dzat Yang Maha Agung.

Selain itu ibadah puasa adalah ibadah yang terbebas dari riya’. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW :

ليس في الصيام رياء

“Pada puasa tidak ada sifat riya (pamer)”.

Puasa adalah ibadah yang tersembunyi, hanya orang yang melaksanakannya dan الله saja yang mengetahui apakah seseorang itu berpuasa.

Berbeda dengan ibadah lainnya, seperti; syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji, dan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah lainnya itu, semuanya bisa terlihat dan terdengar. Syahadat, sholat, zakat, haji. Semuanya terlihat dan terdengar.

Ibadah puasa juga memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak memiliki ketentuan khusus kandungan pahala yang diperoleh, lain halnya seperti ibadah lainnya yang dapat dilipatkan 10 kali sampai 700 kali lipat. Sedangkan pahala puasa, tanpa batas yakni sekehendak-Nya.

Sebagaimana juga dijelaskan di dalam hadits. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Maksudnya, ibadah puasa itu tidak ada yang tahu selain daripada الله (ibadah sirri). Coba perhatikan, bagian mana dari puasa itu yang terlihat oleh orang lain? Tidak ada!

Karena الله diri sendirilah yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak. Oleh karena itu الله berfirman, “Hanya Aku lah yang akan membalasnya dengan pahala yang banyak tanpa menentukan kadarnya”.

Kalau ibadah yang terlihat seperti pahala shodaqoh itu ganjarannya sampai 700 kali lipat, maka ibadah puasa adalah ibadah yang tidak terlihat (sirri), oleh karena rahasia (sirri) maka pahalanya pun dirahasiakan pula oleh الله. Tetapi cukuplah bagi kita untuk memahaminya dengan الله mengatakan “Aku yang akan membalasnya”, itu sudah cukup menjelaskan betapa basarnya pahala puasa itu.

Ibnu Abdil Barr menjelaskan, bahwa ibadah puasa seseorang itu tidak terlihat melalui perkataan ataupun perbuatannya karena dia merupakan amalan hati yang tidak diketahui, kecuali oleh الله.

Kesimpulannya adalah, ada perbedaan ganjaran pahala bagi ibadah lahir (terlihat) dan ibadah batin (tidak terlihat). Karena batin (tersembunyi/rahasia), tentu kualitasnya terjaga dari riya’, maka الله rahasiakan pula ganjarannya dan sudah barang tentu lebih utama dari ibadah-ibadah lainnya.

Ibadah rahasia itu ialah ibadah yang disembunyikan, sebuah jalan sunyi yang ditempuh seorang Sufi menju الله. Yang Rahasia-Nya ditampakkan kepada mereka dengan kasih sayang-Nya. Mereka inilah yang hatinya sudah khusyu’ hanya bersama الله, mereka senantiasa diliputi kenikmatan rasa yang الله curahkan kepada hati para Kekasih-Nya.

Sehingga bagi mereka tidaklah ada rahasia, karena rahasia itu telah ditampakkan-Nya kepada mereka, maka ibadah-ibadah yang dirahasiakan merupakan jalan-jalan rahasia dalam perjalanan menuju الله, yang dengan jalan tersebut menghantarkan mereka kepada Musyahadah, atau menyaksikan الله, yang menghantar mereka wushul (sampai) kepada الله.

Maka sekali lagi bahwa dengan Puasa itu hendaknya mampu me-wusulkan hamba kepada Robbnya nya, tetapi tentu tidak hanya sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak bersetubuh di siang hari, melainkan meyempurnakannya dengan pengendalian daripada hawa nafsu syahwatnya sebagai manusia menuju sifat-sifat yang dimiliki oleh الله تعالى، Dzat Yang Maha Agung.

Wallohu ‘a’lam bishshowab.
Tafakkur Pecinta Kesucian Jiwa. Madrosah Al Maghribi, 5 Romadhon 1445 H.

Share this Article
Leave a comment