MEREM TIDAK TIDUR

Oleh: K.H. Budi Rahman Hakim, MSW., P.h.D. (Abah Jagat Al Khoolish)
[Pembantu Khusus ABAH AOS]
15 Maret 2016

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَـهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 205)

Bagi yang tidak familiar dengan dunia thoriqoh, foto Pangersa Guru Agung Abah Aos, berderet ke kiri dua Wakil Talqinnya, KH. Mohammad Soleh Mukhtar Hujjatul ‘Arifin dan KH. Irfan Zidni Wahab akan dan bisa disalah mengerti. “Ngaji kok tidur,” misalnya.  Penampakan sekilas, persepsi itu akan tampak dan terasa tidak salah. Namun sesungguhnya posisi duduk seperti ini adalah ajaran yang jadi amalan para kekasih Alloh sepanjang sejarah peradaban manusia. Inilah kebiasaan sekaligus kesenangan guru pecinta kesucian jiwa yang diwariskan turun temurun dari gurunya dari gurunya dari gurunya hingga hadirat maha guru suci kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassalam. ketika Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallohuanha bertanya kepada beliau :

يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ تَنَامُ عَيْنِي وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

“Wahai Rasululloh, apakah baginda tidur sebelum melaksakan shalat witir?. Beliau menjawab: “Mataku memang tidur tapi hatiku tidaklah tidur.” (HR. Bukhari)

Posisi duduk seperti ini, sekali lagi, bukan sedang tidur. Inilah teladan “merem tidak tidur” dari Pangersa Abah untuk umat Islam, khususnya kepada para ikhwan pengamal tentang posisi duduk terbaik saat mengikuti amaliyah Manaqib dan di saat-saat senggang, di mana saja. Ini adalah posisi tubuh paling favorit Pangersa Abah saat menunggu tiba waktu sholat, apa saja dan di mana saja, wabilkhusus ketika duduk satu jam sebelum adzan shubuh berkumandang.  Kenapa sebegitu bernilainya posisi seperti ini?

Ini bukan posisi duduk biasa, melainkan posisi duduk paling utama di antara posisi-posisi lainnya di luar gerakan sholat. Inilah posisi inti dari segala inti ibadah, inilah ibadah yang nilainya setara ibadah seribu bulan.  Inilah ‘tawajjuh‘ mata terpejam, bibir rapat, lidah ditekuk ke atas langit-langit, dagu menyentuh dada, kepala nunduk menyamping ke posisi dua jari di bawah susu kiri Yaitu, penghadapan seluruh jiwa raga terhadap aku, diri, hati, yang sedang tenggelam dalam lautan dzikir Khofi. Inilah Dzikir hati, Dzikir diri, Dzikir inti kalimah Dzikir paling agung Laa Ilaaha Illalloh. Inilah dzikir aku, jeritan hati yang malaikat dan syetan pun tak bisa mendengarnya, jeritan hati yang hanya aku dan Alloh yang tahu. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

اِذْ نَا دٰى رَبَّهٗ نِدَآءً خَفِيًّا

“(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam 19: Ayat 3)

Inilah posisi diri yang sedang membersamakan hati dengan dan sudah kembali (sejak sekarang) kepada Yang Maha Suci. Diri yang sedang dan akan selalu menghidupkan hati dengan Dzikir Naqsyabandi. Dalam hadits qudsi Alloh Subhanahu Wata’ala bersaksi untuk diri yang senantiasa hidup hati dengan Dzikir:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku pada-Ku (maksudnya, Aku bisa melakukan untuknya apa yang menurutnya bisa Aku lakukan). Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku sendiri, Aku mengingatnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepada-Nya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepada-Nya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku berjalan, Aku akan mendatanginya berlari.” (HR.Bukhori)

Pangersa Abah Aos pernah menyampaikan, “Ketika ber-Tawajjuh, sungguh, kita sedang menghadap Yang Tercinta, ALLOH azza wajalla. Jangan suka bawa orang lain, sendiri saja: Harus sendiri [walaa yaltafit minkum ahadun]. Kalau ada yang datang dari depan, dari belakang, dari kanan, dan atau dari kiri, abaikan. Jangan terganggu oleh apapun dan oleh siapun. Hadapkan diri, sendiri saja, ke Hadrot-Nya: Ilaahi Anta Maqshudi Waridhoka Mathlubi…”

Semoga Alloh berkahi diri kita dengan limpahan karomah Istiqomah Pangersa Abah agar senantiasa bersama-Nya, bersama dengan orang yang selalu bersama-Nya. Bibarokah wal istiqomah seluruh Ahli Silsilah TQN PP Suryalaya khusus Pangersa Abah Alfatihah. Amin.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Popular