PENDUDUK LANGIT YANG TERPENJARA DI BUMI

Panji Makalalag
Panji Makalalag
3 Min Read

Oleh: K.H. Budi Rahman Hakim Al Amiin, MSW., Ph.D. (Abah Jagat Al Khoolish)
(Alumnus Tillburg University)

Saat kita, manusia, masih berupa ruh, kita adalah makhluq suci, sesuci-sucinya. Semua manusia, tanpa kecuali. Kesucian ruh kita itu karena ruh kita berasal dari Ruh Qudsi, الله Yang Maha Suci. Lalu الله “turunkan” kita dari Alam Ruh ke Alam Raga; Atau dari Alam Akhirat ke Alam Dunia; Atau dari Langit ke Bumi.

Saat kita, ruh, masuk ke raga, kesucian ruh kita masih terjaga sampai tiba masa aqil baligh. Dari sejak aqil baligh inilah ujian menjaga kesucian dimulai. Lingkungan ikut andil besar dalam menjaga dan sebaliknya mengotori kesucian kita.

Saat kita, ruh, bersarang di raga, raga memiliki aturan serta kecenderungan sendiri. Siapapun yang menghuni raga mesti tunduk kepada tarikan hukum Alam, sebagaimana makhluq yang ada di sekitarnya. Alamiyahnya semua manusia hanya tunduk kepada tarikan Hukum Alam ini.

Untuk eksistensi dan keberlangsungan hidup, tarikan hukum yang berlaku di bumi diregulasi oleh insting serta hawa nafsu. Sejatinya tarikan kebutuhan fisik inilah, dengan segala kenikmatannya, yang menjadi penggerak hidup mereka. Bahkan lama-lama mereka mengira, hidup di dalam raga di bumi itu, semata untuk memenuhi serta menikmati kebutuhan ragawi, kesenangan duniawi.

Ketika kebutuhan ragawi dan kesenangan duniawi mengokupasi dirinya, mereka berlomba untuk menguasai satu sama lainya. Lalu muncullah sifat-sifat hewani yang perlahan tapi pasti bertahta di dalam diri mereka: ingin menang banyak, ingin punya banyak. Iri, dengki, membenci, hasut, tamak menghiasi perangai kehidupannya. Inilah sifat-sifat yang menjadi noda-noda kesucian ruh manusia.

Manusia-manusia yang terperangkap dalam memperturutkan nafsu ragawinya dan tersesat dalam pola keyakinan inilah manusia yang disadarinya atau tidak telah menodai kesucian ruh yang mendiami raganya. Mulanya kotoran ruh itu hanya berupa bintik-bintik hitam, terus menyemut hitam lalu kotoran itu semakin pekat melumuri sekujur ruhnya. Noda kotoran itu semakin mengeras, semakin memenjarakan ruh di jeruji gelap raganya.

Semakin dalam terpenjara di dalam cinta terhadap raganya dengan seluruh gelimang kesenangan duniawinya mereka semakin lupa bahwa semua akan berakhir. Akan tiba masa penghabisan. Dan mereka takut, setakut-takutnya, dengan akan tibanya masa itu. Ketika akhirnya tiba malak Ajroil mengusir paksa keluar dari raganya, mereka panik sejadi-jadinya, berteriak protes sekeras-kerasnya, اين المفر, mau dibawa kemana aku?

Manusia-manusia macam inilah yang terpaksa meninggalkan raga lalu terpenjara di alam antara (barzakh). Mereka merana, terlunta-lunta, dalam masa penantian yang panjang penuh sesal. Tersiksa sebelum tiba masa siksa Api Neraka. Mereka inilah penduduk langit yang terpenjara di bumi, tertahan di alam antara. Na’udzu billahi mindzaalik (BERSAMBUNG).

Salam, AL KHOOLISH

Share this Article
Leave a comment