TIDAK IKUT GURU KEMBALI KE MAQOM UMUM (Bagian 1)

Panji Makalalag
Panji Makalalag
3 Min Read

Oleh: K.H. Mahmud Jonsen Al Maghiribi, M.Si.
(Wakil Talqin Pangersa ABAH AOS dari Tanggerang)

Ringkasan Khidmat Ilmiah :

Kita ini berthoriqoh, dalam thoriqoh, ikut kepada Guru itu mutlak. Tidak boleh AMBIGU, yakni disisi lain ikut pendapat Guru, disisi lain ikut pula pendapatnya orang lain.

Seperti halnya dengan beragam pendapat tentang ‘Apakah Nabi Muhammad SAW melihat الله‎ pada saat beliau Isro’ dan Mi’roj?’

Sebagian ‘Ulama (saya pakai istilah ‘ulama saja meskipun ‘Ulama itu sekaliber Sahabat Nabi sekalipun), ada yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melihat Alloh pada saat Mi’roj.

Namun sebagian ‘Ulama lagi ada juga yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW melihat الله‎ ketika beliau Mi’roj.

Nah, bagi kita ikhwan Tqn Suryalaya, mau ikut pendapat yang mana?

Tentu kita tidak boleh Ambigu, harus yakin bahwa pendapat Guru kita itulah yang wajib kita ikuti (kacamata kuda), dengan tidak menyalahkan pendapat orang lain. Mengapa kita harus yakin? Karena di dalam berthoriqoh itu, tujuannya adalah ‘sampai’ (wushul) kepada Alloh. Ini perjalanan serius, oleh karena itu jangan dianggap main-main, dan bukan main-main.

Wushul itu bukan dengan badan, dengan kaki, dengan mulut, dengan suara, dengan otak, atau dengan mata, melainkan sampai kepada الله‎ itu dengan Hati. Wushul kepada الله‎ itu adalah puncak dari perjalanan ruhani seorang hamba. Makanya kita harus yakin (bukan berdasarkan katanya-katanya), bahwa Nabi Muhammad SAW ketika Mi’roj, beliau ‘sampai’ dan melihat الله‎ untuk menerima perintah sholat secara langsung.

الله‎ ‘Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ رَاٰ ى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

“Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm 53: Ayat 18).

Nah, tanda Tuhan yang paling besar itu, ialah melihat الله‎. Tapi melihat disini bukan dengan jasad, atau mata yang ada di kepala, melainkan dengan Bashiroh (Mata Hati). Inilah puncak dari perjalanan ruhani seorang hamba menuju الله‎ Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, ikut kepada Guru Mursyid itu wajib bagi murid, apalagi perintah yang sudah sangat jelas dari Mursyid, itu wajib kita ikuti, hanya murid ‘gagal’ (kembali ke maqom umum) yang tidak ikut dan memuliakan perintah Guru. Guru Mursyid wajib kita muliakan dan junjung tinggi perintahnya, sebab Guru Mursyid itu merupakan ‘Tangga’ bagi kita untuk naik menuju الله‎. Adapun kendaraanya (Buroq) bagi kita adalah Hati. Dimana hati ingat kepada sesuatu, maka saat itu juga hati sampai kepada sesuatu yang diingatnya.

Wallohua’lam.

Madrosah+Raudhoh Al Istiqomah, Pasar Minggu Jaksel, Minggu, 29-01-2023 (Ba’da Dhuhur).

K.H. Mahmud Jonsen bersama Pangersa Abah Aos
Share This Article
Leave a comment