HomeNgaji Tentang Kehidupan & KematianTIGA JENIS RUH MENGHADAPI "KEMATIAN"

TIGA JENIS RUH MENGHADAPI “KEMATIAN”

#BacaanBagiYangAkanMenghadapiKematian

Pada akhirnya kita akan meninggalkan, menanggalkan jasad. Saat ‘kita’-nya pergi, ia, jasad, terbujur kaku. Jangan cemas. Takkan ada yang membiarkan jasad kita tergeletak membau. Seburuk-buruknya, akan ada yang memandikan, mengkafani, mensholati, membopong ramai-ramai ke area pemakaman lalu membenamkan kita di sebuah liang sempit seukuran badan. Sendiri dipeluk sang bumi.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian ialah: kita, yang tetap hidup tanpa raga lagi, ngapain? Mau kemana? Apa yang kita rasakan ketika semua telah menganggap kita tlah pergi, lalu berpaling pergi? Semuanya, tanpa kecuali, pergi meninggalkan kita sendiri, termasuk mereka mengaku sangat cinta?

Jawabannya: kita akan melanjutkan kehidupan. Seperti apa kehidupan kita tanpa raga, di alam sebelah? Semua tergantung kita, sejak saat di sini, di dunia ini.

Tak ada satu pun manusia yang mengetahui akhir kontrak ruh menghuni jasad mereka. Sampai akhirnya waktu itu tiba, baru diberi tahu bahwa masa kontraknya sudah habis –terkecuali manusia-manusia pilihan-NYA.
*****

Sedikitnya ada tiga jenis respon ruh menghadapi pemberitahuan habisnya “kontrakan” di dunia.
Pertama, ruh yang tak terima dengan pemberitahuan yang tiba-tiba itu, menolak pengusiran ruh dari tubuhnya. Sayang, sang petugas, Malak Azroil, tegas dan galak-galak. Tidak ada dan tidak mau negosiasi. Jika keukeuh menolak ruh diusir paksa. Ditendang dari dalam ditarik dari luar.

Ruh jenis ini menolak karena merasa tidak punya persiapan, tidak tau mau kemana pergi. Tidak punya bekal pergi. Tidak ada satu pun yang bisa ditanyainya atau membimbing mesti bagaimana setelah berpindah alam ini. Terlunta-lunta ia, merana dan tersiksa dalam ketelantaran. Waktu baginya terasa berjalan begitu lama persis seperti dirasakan orang-orang yang hidup di balik jeruji penjara.
*****
Respon ruh jenis kedua saat tiba pemberitahuan mendadak tentang masa kontraknya tinggal di dunia sudah habis, ia tidak kaget. Tenang saat pemberitahuan dan pejemputan. Tidak menolak saat Malak Azroil mengeksekuasi proses keluarnya ruh dari jasadnya. Ia tenang karena merasa cukup bekal, persiapan dan ‘kelengkapan administasi’ perpindahan alam kehidupan.

Merasa cukup mampu “menjawab” pertanyaan-pertayaan petugas alam karantina (barzakh), Malakaani Munkar Nakir, terkait keyakinan, catatan amal kebaikan dan bagamana waktu dihabiskan. Dalam proses penantian dan pengecekan syarat-syarat ‘administrasi’ perpidahan ke alam baqo’, mereka boleh istirahat di ruang persinggahan (alam kubur), sambil menyaksikan tayangan film dokumenter kehidupan diri sendiri saat ia masa aqil baligh hingga tiba akhir waktu di dunia.

Saat film diputer, persis suasana seperti nonton drakor: tersenyum bahagia, saat menonton bagian memainkan peran jadi orang baek, banyak melakukan kebaikan, namun ada saat terisak-isak dalam tangis, sedu sedan, nyesel bahkan nyesek saat menyaksikan peran jahat, tenggelam dalam perbuatan dosa. Ada saat jeda tapi begitulah seterusnya aktivitas di ruang persinggahan. Ada yang merasa waktu berjalan cepat ada saat merasa waktu berjalan lamban.
*****
Ruh jenis ketiga ialah ruh yang sejak sekarang sudah sering melakukan perjalanan pulang-pergi, bolak-balik ke alam sebelah. Yaitu, ruh yang telah terhubung dalam jaringan ruh-ruh suci di alam sini dan alam sana.

Adapun nara-hubungnya adalah seorang yang telah resmi ditunjuk sebagai Guru dan Ahli Ruh yang akan akan membantu manusia agar tergabung dalam network arwahul muqoddasah. Dengan demikian, dari sekarang bukan hanya sudah kenal akrab dengan penduduk sana tapi juga sudah punya para penyambut bila tiba saat perpindahan alam.

Hidup bagi kalangan khusus ini cuma menunggu waktu habis kontrakan ruh mendiami jasad saja. Ruh-ruh yang merasakan nikmat sejak sekarang ialah karena telah meraih kesucian jiwa. Kesucian jiwa hasil usaha ikut kepada yang telah mensucikan jiwanya. Kesucian jiwa bagi siapa yang ikut Guru Ruh pemandu Kesucian Jiwa diukur dari prasangkanya terhadap kehidupan yang slalu baik; ia merasa telah siap siaga berpulang kapan pun kontrakannya habis.

Kematian baginya hanya pintu gerbang perpindahan dari alam sementara ke alam keabadian: kehidupan bahagia bersama Yang Maha Kekal dan Abadi.
*****

Sekarang, silahkan tinggal pilih mau masuk jenis yang mana. Terserah. Semua pilihan ada benefit dan konsekuensinya.
Salam cinta,

KH Budi Rahman Hakim al Khoolish, MSW., PhD. [Pemerhati Masalah ‘Kematian’/Pendiri Pesantren Peradaban Dunia JAGAT ‘ARSY, Banten]

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Popular